Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Memahami Bencana Banjir Bandang dan Pencegahannya

Kamis 24 Jan 2019 12:10 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Friska Yolanda

Tim relawan mengevakuasi warga yang terjebak banjir di Perumahan Bung Permai, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (23/1/2019).

Tim relawan mengevakuasi warga yang terjebak banjir di Perumahan Bung Permai, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (23/1/2019).

Foto: Antara/Sahrul Manda Tikupadang
Penyebab banjir mulai dari hujan ekstrem, jebolnya bendungan dan longsor.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Banjir bandang yang sering terjadi di Indonesia belum banyak dipahami masyarakat Indonesia. Dosen dan Peneliti Ekohidraulik, Sungai, Banjir dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Agus Maryono, membagikan analisisnya.

Ia menerangkan, banjir bandang hampir terjadi setiap tahun. Pada 2002 terjadi di Pacet-Mojokerto, Bahorok 2003 dan Kutacane 2004, Jember 2005, Sinjai 2006, Gorontalo 2006, Langkat 2007, Poliwali 2009, dan Wasior 2010.

Banjir bandang terjadi lagi pada 2011 di Pidie, 2012 di Padang, 2013 di Ambon, 2014 di Manado dan 2015 di Pati. Sedangkan, tiga tahun terakhir terjadi di Garut 2017, Magelang dan Padang 2018 serta Mojokerto pada 2019.

Belum menanggulangi, sebagian besar masyarakat masih kebingungan banjir-banjir mana yang termasuk bandang, apa penyebabnya dan apakah itu akan terulang lagi. Secara umum, banjir dapat dibedakan menjadi tiga.

photo

Rumah warga di Pidie dihantam banjir bandang.

Banjir kecil ditandai genangan-genangan air, banjir sedang ditandai luapan dan genangan bantaran, persawahan dan permukiman, dan banjir besar ditandai tenggelam berbagai fasilitas umum, jebolnya tanggul dan terputusnya jalan.

Berdasarkan debit dan probabilitas statistik, banjir diagi menjadi banjir 10 tahunan, 50 tahunan dan seterusnya sampai banjir 1.000 dan 10.000 tahunan. Ada pula klasifikasi berdasarkan durasi berlangsungnya banjir.

Sedangkan, banjir yang berlangsung cepat dengan kisaran waktu terjang relatif pendek dengan debit puncak yang ekstrem tinggi, membawa lumpur, pasir, batuan, kayu dan berbagai elemen, lalu relatif cepat surut disebut banjir bandang.

"Banjir bandang inilah yang biasanya banyak membawa korban jiwa dan harta benda karena dengan waktu yang singkat dan debit banjir yang ekstrem, sehingga masyarakat tidak sempat menyelamatkan diri," kata Agus, Kamis (24/1).

Setidaknya ada enam penyebab terjadinya mulai hujan ekstrem, tipologi DAS, jebolnya pembendungan akibat sisa-sisa vegetasi dan longosran, bertemunya dua puncak banjir, jebolnya bendungan dan kembalinya alur sungai sudetan ke semula.

Artinya, penyebab banjir bandang yang cukup beragam itu mendesak dilakukannya usaha-usaha pencegahan penyeluruh. Usaha preventif harus dilakukan demi dapat menghindarkan terjadinya bencana itu atau jatuhnya korban akibatnya.

photo

Warga berusaha menarik mobil truk pengangkut batu yang berada di tengah sungai Batang Kuranji akibat terseret banjir di Kecamatan Pauh, Padang, Sumatera Barat, Rabu (2/1/2019).

Sebab, pada saat terjadi tentu sudah sulit dilakukan pencegahan. Pascabanjir, perlu rekonstruksi konsep jangka panjang, merelokasi permukiman sepanjang bantaran sungai, menata DAS dan reboisasi, serta pahami karakter tiap sungai.

Agus mengingatkan, jika banjir bandang terjadi dan berasosiasi dengan banjir run off (sungai meluap ditambah hujan lokal) kerugian akan sangat besar. Maka itu, perlu diingat banjir itu suatu saat akan terulang lagi.

Untuk itu, ia menyarankan segera dilakukan upaya-upaya preventif prioritas sesuai yang disarankan dalam penanggulangan banjir bandang. Jangan sampai, sesuatu yang bisa dicegah justru dibiarkan terjadi.

"Agar kita tidak merasa bersalah berkepanjangan karena bencana yang masih bisa kita cegah atau mitigasi, tidak kita lakukan pencegahan, sehingga bencana itu terjadi lagi dan memakan korban jiwa dan harta benda yang tidak sedikit," ujar Agus.

Untuk mengurangi risiko, pahami ciri-ciri akan terjadinya banjir bandang, cari sungai-sungai yang diprediksi menyebabkan banjir bandang, dan lakukan ekspedisi susur sungai guna menemukan kondisi-kondisi itu dan buat antisipasi.

Periksa pula kebocoran di bendungan, embunga atau waduk Jika sudah diantisipasi ternyata tidak terjadi, perlu disyukuri karena usaha itu masih berfungsi dan berguna untuk pencegahan. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA