Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Waspada DBD: Korban Meninggal Bertambah

Rabu 23 Jan 2019 17:16 WIB

Rep: Dadang Kurnia, Riga Nurul Iman/ Red: Elba Damhuri

Pencegahan DBD. Petugas dari kelurahan Pasar Minggu mengasapi lingkungan warga di Pasar Minggu, Senin (21/1/2019).

Pencegahan DBD. Petugas dari kelurahan Pasar Minggu mengasapi lingkungan warga di Pasar Minggu, Senin (21/1/2019).

Foto: Republika/ Wihdan
Maraknya kasus DBD ini disebabkan sejumlah faktor.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) masih terus terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Beberapa daerah mencatatkan munculnya korban meninggal.

Di Jawa Timur, dinas kesehatan (dinkes) setempat mencatat kasus DBD sepanjang Januari 2019 meningkat hingga 47 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Penderita DBD di Jatim sepanjang Januari 2019 tercatat sebanyak 1.634 orang dibandingkan 1.114 pada bulan yang sama tahun lalu.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Jawa Timur, Siti Murtini, mengungkapkan, pada awal tahun ini sudah 32 orang meninggal akibat DBD di Jatim.

Kasus DBD terbanyak di Jatim pada Januari ini terjadi di Kabupaten Tulungagung dengan 223 kasus. Di daerah itu, tiga orang dinyatakan meninggal akibat penyakit tersebut.

Peringkat kedua ditempati Kabupaten Kediri dengan 160 kasus penyakit DBD, 10 orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Selanjutnya, ada Kabupaten Bojonegoro dengan 114 kasus penyakit DBD, dan dua orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia.

Selanjutnya, di Kabupaten Ngawi dengan angka 99 kasus penyakit DBD, dua orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Peringkat kelima adalah Kabupaten Blitar dengan angka 82 kasus, satu orang di antaranya meninggal dunia. Hanya di Kota Batu yang tercatat tidak ada kasus penyakit DBD selama Januari 2019.

Siti mengatakan pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka penyakit DBD di Jatim. Salah satunya dengan dikeluarkannya surat edaran dari Gubernur Jatim Soekarwo, yang ditujukan kepada seluruh bupati/wali kota untuk melakukan gerakan-gerakan pemberantasan sarang nyamuk.

"Kita juga meningkatkan program terbaru, yaitu satu rumah satu jumantik. Harapannya maka jentik yang di lingkungan rumah itu menjadi tidak ada. Kalau jentik tidak ada, nyamuk tidak ada," ujar Siti.

Di Sukabumi, warga yang terjangkit DBD sejak awal 2019 juga melonjak dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. ‘’Selama 17 hari pertama di Januari 2019, telah ditemukan sebanyak 31 kasus DBD,’’ kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi, Lulis Deliawati, Selasa (22/1).

Jumlah itu meningkat 100 persen dibandingkan kasus DBD pada Desember 2018 lalu. Sebelumnya, pada Oktober dan November 2018 lalu, kasus DBD sebanyak 20 kasus.

Menurut Lulis, dari 31 pasien DBD pada awal tahun ini satu di antaranya meninggal dunia. Yang bersangkutan merupakan warga Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi. Lulis mengatakan, Lembursitu merupakan salah satu wilayah dengan kasus DBD cukup tinggi selain Kelurahan Subangjaya di Kecamatan Cikole dan Kelurahan Nanggeleng di Kecamatan Citamiang.

Lulis mengungkapkan, mulai maraknya kasus DBD ini disebabkan sejumlah faktor, di antaranya akibat faktor musim hujan yang menyebabkan genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Selain itu, akibat masyarakat yang masih belum memperhatikan masalah kebersihan lingkungan.

Sementara itu, Dinkes Kabupaten Bandung Barat mengungkapkan jumlah warga yang terjangkit penyakit DBD sepanjang Januari ini mencapai dua kali lipat dibandingkan periode tahun sebelumnya.

"Kurang lebih hampir dua kalinya dibanding periode yang sama berdasarkan laporan yang diterima dari puskesmas," ujar Kepala Dinkes Kabupaten Bandung Barat, Hernawan, Selasa. Ia juga menuturkan, satu warga meninggal akibat penyakit DBD awal tahun ini.

Pada awal 2019, sebanyak 93 warga Kota Bogor juga terjangkit DBD. Jumlah tersebut naik drastis hanya dalam kurun waktu tiga hari. Sebelumnya dikabarkan pada Jumat (18/1), terdapat 43 warga Kota Bogor yang terjangkit DBD.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, tiga balita warga Kota Bogor dilaporkan meninggal akibat DBD. “Ketiga balita yang meninggal ini adalah pasien di RSUD Cibinong, RS Karya Bhakti Pratiwi, dan di RS FMC,” kata Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Surveilance (P3MS) Dinkes Kota Bogor Sari Chandrawati kepada Republika, Senin (21/1).

Jumlah kasus DBD di Provinsi Jawa Barat pada awal 2019 ini juga diperkirakan mengalami peningkatan. "Dua pekan pertama ini, terdapat 949 kasus, sementara selama Januari 2018 dalam sebulan jumlahnya 969 kasus," ujar Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit tidak Menular Dinkes Jabar, Widyawati, Selasa (22/1).

Untuk wilayah dengan korban DBD yang banyak, kata Widiyawati, kemungkinan karena telatnya penanganan ataupun pelayanan. Dinkes Jabar, menurut dia, telah melakukan antisipasi ke setiap daerah agar waspada DBD dengan mengirimkan surat edaran.

Kasus demam berdarah di RS PKU Muhammadiyah Gamping, DIY, juga menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama. Pasien demam berdarah yang dirawat di RS PKU Muhammadiyah Gamping pada 1-22 Januari 2019 sebanyak 21 kasus, sedangkan pada 1-22 Januari 2018 sebanyak 13 kasus.

“Tahun ini kasus demam berdarah lebih banyak terjadi pada orang dewasa dan kemungkinan di bulan ini masih akan meningkat lagi,” kata Manager Pelayanan Medik RS PKU Muhammadiyah Gamping Masykur Rahmat kepada Republika, Selasa (22/1). Meskipun demikian, tahun lalu ataupun tahun ini, pasien demam berdarah yang dirawat di RS PKU Muhammadiyah Gamping tidak ada yang meninggal.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebelumnya mencatat pemerintah daerah (pemda) di tiga provinsi telah menetapkan kejadian luar biasa (KLB) penyakit DBD sejak 1 Januari 2019 hingga 17 Januari 2019. Di antaranya Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara (Sulut), dan Kalimantan Tengah (Kalteng).

Terkait wabah penyakit, penetapan KLB tak berkorelasi dengan banyaknya jumlah penularan dibandingkan daerah lain, tetapi berdasarkan lonjakan dua kali lipat jumlah kasus dibandingkan kasus tahun sebelumnya.

Selain tiga provinsi, 10 provinsi lainnya mengirimkan notifikasi peningkatan wabah DBD di wilayah masing-masing, di antaranya Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Lampung, Sumatra Utara, dan Sulawesi Selatan.

(muhammad fauzi ridwan/arie lukihardianti/imas damayanti/neni ridarineni ed: fitriyan zamzami)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA