Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Menteri Luhut: Pembunuhan Pekerja di Papua tak Elok

Selasa 04 Dec 2018 15:53 WIB

Red: Ratna Puspita

Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan

Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan

Foto: Antara/Muhammad Iqbal
Luhut mengatakan pembunuhan terjadi pada orang yang mengerjakan pembangunan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyebut pembunuhan terhadap para pekerja pembangunan jembatan di Papua sebagai hal yang tidak elok. "Saya pikir inilah buktinya masih (ada) orang yang membunuhi orang yang membuat pembangunan, itu tidak elok," kata Luhut di Jakarta, Selasa (4/12).

Luhut mengaku belum menerima laporan lengkap terkait musibah yang menimpa puluhan pekerja pembangunan jembatan tersebut. Luhut juga belum mengetahui apakah pembangunan tersebut mendapatkan pengamanan dari TNI atau tidak.

Namun, Luhut berpendapat jika terdapat pengamanan dari TNI kemungkinan tidak ada masalah. "Saya tidak tahu apakah ada tentara atau tidak, kalau saya melihat ini tadi, kebetulan sepertinya tidak ada tentara. Jika ada tentara mestinya tidak masalah," ujar Menko Kemaritiman tersebut usai memberikan pidato dalam Seminar Nasional "Pembangunan Berbasis Inovasi di Era Industri 4.0".

Ia mengatakan pemerintah tidak boleh mundur dengan (aksi-aksi) yang tak bertanggungjawab tersebut.

Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyesalkan kejadian yang terjadi di segmen 5 ruas Papua. Kementerian PUPR sedang membangun penyempurnaan konektivitas di Tanah Papua.

"Ruas Wamena-Heberna-Kenyam-Mumugu merupakan segmen 5 dari ruas Papua dengan panjang 278 kilometer," kata Basuki Hadimuljono dalam jumpa pers terkait musibah yang menimpa pekerja pembangunan jembatan di Provinsi Papua di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, jalan sudah tembus pada tahun ini. Namun, masih belum sempurna karena masih ada pengerjaan 35 jembatan.

PT Istaka Karya mengerjakan 14 jembatan, dan 11 jembatan di antaranya dalam pengerjaan. Sedangkan, PT Brantas Abipraya Persero mengerjakan 21 jembatan, lima di antaranya dalam tahap pengerjaan.

Menurut Basuki Hadimuljono, sebenarnya tidak ada penolakan dari masyarakat mengenai pembangunan Trans Papua. Kendati mengalami gangguan keamanan, Kementerian PUPR telah berkoordinasi dengan Panglima Kodam di Papua.

Menteri Basuki juga menandaskan hal tersebut tidak menyurutkan semangat untuk membangun jalan terus. "Pembangunan tetap jalan terus untuk memenuhi rasa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," kata Basuki.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA