Kamis, 24 Syawwal 1440 / 27 Juni 2019

Kamis, 24 Syawwal 1440 / 27 Juni 2019

Tak Diundang Reuni 212, Jokowi Bersepeda Santai di Bogor

Ahad 02 Des 2018 09:03 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Bayu Hermawan

Presiden Joko Widodo pagi ini bersepeda santai dari Istana Bogor, Jawa Barat menuju Kecamatan Bantarjati, Kota Bogor, Ahad (2/12).

Presiden Joko Widodo pagi ini bersepeda santai dari Istana Bogor, Jawa Barat menuju Kecamatan Bantarjati, Kota Bogor, Ahad (2/12).

Foto: Dessy Suciati Saputri
Selain berolah raga, Jokowi juga akan meninjau pemasangan instalasi listrik.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) berolahraga pagi dengan bersepeda santai pada Ahad (2/12) pagi. Jokowi telah dipastikan tidak diundang dalam acara Reuni 212 yang digelar di kawasan Monas, Jakarta Pusat.

Presiden yang tampak mengenakan jaket hitam dan perlengkapan bersepeda itupun mulai mengayuh sepedanya dari Istana Kepresidenan Bogor menuju Kelurahan Bantarjati, Kota Bogor, Jawa Barat.

Selama perjalanan, Presiden disambut oleh masyarakat. Ia pun juga menyempatkan diri menyapa masyarakat yang hadir.  Sesampainya di Kelurahan Bantarjati, Bogor Utara, Presiden kemudian meninjau pemasangan instalasi listrik PLN. Ia juga tampak meninjau sejumlah rumah warga yang mendapatkan sambungan listrik.

Usai meninjau pemasangan instalasi listrik, Jokowi akan melanjutkan kunjungan kerjanya ke Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Di sana, ia akan melakukan sosialisasi prioritas penggunaan dana desa tahun 2019 di Provinsi Jawa Barat.

photo

Presiden Joko Widodo pagi ini bersepeda santai dari Istana Bogor, Jawa Barat menuju Kecamatan Bantarjati, Kota Bogor, Ahad (1/12). (Dessy Suciati Saputri)

Seperti diketahui, penyelenggara Reuni 212 batal mengundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk hadir pada kegiatan tersebut. Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif mengatakan, ada banyak perkembangan situasi dan juga masukan-masukan dari para ulama, termasuk dari Habib Rizieq Shihab.

"Di rapat-rapat kemarin sempat, ketika jumpa pers kemarin juga kita menanyakan dua-duanya diundang tapi kemudian berkembang situasinya, berkembang masukannya," katanya,

Slamet menerangkan, pertimbangan yang ada itu di antaranya, Jokowi pihaknya nilai kurang menghargai gerakan 212. Selain itu, penegakkan hukum dan keadilan yang dilakukan oleh Jokowi juga dinilai masih belum bisa dilaksanakan dengan baik. Kemudian, lanjut Slamet, kriminalisasi terhadap ulama juga belum ada penyelesaiannya hingga saat ini.

Menurut Slamet, pertimbangan berikutnya adalah jika mengundang Jokowi, pihaknya khawatir akan banyak datang protokoler yang berdampak pada kekhuyukan kegiatan tersebut. Ia juga menuturkan, peserta Reuni 212 kebanyakan merupakan orang-orang yang merasa kecewa dengan kebijakan Jokowi selama ini. Karena itu, ia khawatir jika Jokowi diundang dan datang, nanti justru memunculkan hal-hal yang tidak diinginkan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA