Jumat, 19 Ramadhan 1440 / 24 Mei 2019

Jumat, 19 Ramadhan 1440 / 24 Mei 2019

Peneliti: Kurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai

Sabtu 01 Des 2018 00:07 WIB

Red: Esthi Maharani

Sampah plastik, ilustrasi

Sampah plastik, ilustrasi

Mengurangi penggunaannya bisa jadi solusi mengatasi persoalan sampah di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  - Peneliti Pencemaran Laut pada Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Muhammad Reza Cordova mengatakan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai menjadi salah satu solusi mengatasi persoalan sampah di Indonesia.

"Solusi penanganan sampah plastik untuk pulau-pulau kecil di Indonesia seperti apa sebenarnya masih perlu dirumuskan. Tapi yang perlu ditekankan, kurangi konsumsi plastik sekali pakai," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Jumat (30/11).

Kalau untuk pulau kecil, menurut dia, jumlah pencemaran sampah plastiknya kemungkinan kecil, karena penggunaannya juga akan lebih rendah dibandingkan dengan di pulau-pulau besar. Namun demikian, Reza mengatakan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengendalikan sampah di pulau-pulau kecil, antara lain mengutamakan 3R (reduce, reuse, recycle), kembali menggunakan bahan alam, membangun pusat reception facility, mendaur ulang, dijadikan listrik atau bahan bakar alternatif.

Hal lain yang menurut dia juga penting untuk dilakukan adalah penekanan kembali budaya sadar lingkungan berdasarkan karakteristik warga setempat. Reza mengatakan saat ini para peneliti P2O LIPI bersama sejumlah pihak lainnya sedang melakukan Ekspedisi Nusa Manggala ke delapan pulau terdepan Indonesia di Papua, Papua Barat, dan Maluku Utara.

Salah satu hal yang ingin dihasilkan, yakni rekomendasi LIPI terkait dengan pengelolaan sampah di pulau-pulau kecil tersebut. Oleh karena itu, menurut dia, untuk dapat memberikan rekomendasi tersebut pihaknya masih harus menunggu hasil dari ekspedisi tersebut, mengingat persoalan sampah di kepulauan tersebut kompleks.

"Selain sumbernya dari dalam negeri, ada sumbangan sampah dari luar juga via Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang disebut dengan 'trash boundary debris'," ujar dia.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA