Rabu, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 Desember 2018

Rabu, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 Desember 2018

Identifikasi Korban JT610 Lebih Cepat dengan Periksa Tulang

Rabu 14 Nov 2018 05:15 WIB

Red: Ani Nursalikah

Keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 menunggu kedatangan peti jenazah di terminal cargo Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung.

Keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 menunggu kedatangan peti jenazah di terminal cargo Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung.

Foto: Antara/Ananta Kala
Data DNA tersimpan lebih lama di tulang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Bidang Identifikasi Korban Bencana (DVI) Rumah Sakit Polri Kramat Jati Komisaris Besar Polisi Lisda Cancer menjelaskan upaya mengidentifikasi identitas korban pesawat Lion Air JT610 melalui DNA lebih cepat dilakukan dengan memeriksa jaringan tubuh daripada tulang.

"Proses pemeriksaan DNA dari jaringan lebih singkat daripada tulang karena banyak prosedur yang harus dilakukan untuk memeriksa DNA dari tulang," kata Kombes Pol Lisda saat ditemui usai jumpa pers di Gedung Sentra Visum dan Medikolegal Rumah Sakit Polri Tingkat I Raden Said Sukanto Kramat Jati, Selasa (13/11).

Lisda menjelaskan, tahapan pemeriksaan DNA dari tulang meliputi proses pengeringan, penggerusan, dan pemeriksaan serbuk. "Tulang harus dibersihkan dan dikeringkan, lalu digerus menggunakan nitrogen cair hingga wujudnya hancur menjadi serbuk. Serbuk itu yang nantinya diperlakukan seperti jaringan," kata Kombes Pol Lisda.

Tahap penggerusan, ia menambahkan, setidaknya butuh waktu kurang lebih satu hari. Meski demikian, data DNA tersimpan lebih lama di tulang dibanding dengan jaringan tubuh lainnya.

"Data DNA dapat tersimpan dengan baik dalam tulang dan tidak mudah rusak, dibandingkan dengan jaringan tubuh lain yang mudah rusak karena pembusukan," ujar Lisda.

Alasannya, tulang memiliki lima lapis jaringan, diantaranya peristoneum (lapisan terluar), tulang kompak, tulang spons, endosteum, dan sumsum tulang. Banyaknya lapisan itu dapat menyimpan data DNA lebih baik, dibanding jaringan lain yang mudah rusak, salah satunya karena pembusukan.

Kombes Pol Lisda menyebut tulang banyak ditemukan pada kantung jenazah yang dikirim pada Jumat (9/11) dan Sabtu (10/11). Kepala tim DVI itu pun optimistis temuan tersebut dapat mengungkap lebih banyak penumpang ke depannya nanti.

Hingga hari ke-16 sejak insiden pesawat Lion Air PK-LQP JT610 jatuh di Tanjung Pakis, Karawang, RS Polri telah mengidentifikasi 82 penumpang, yang 62 di antaranya berjenis kelamin laki-laki, 20 sisanya perempuan. Artinya, masih ada 107 penumpang yang belum teridentifikasi. Tim DVI RS Polri masih memeriksa 666 sampel DNA yang ditemukan dari 195 kantong jenazah.

Sumber : antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA