Sabtu, 20 Ramadhan 1440 / 25 Mei 2019

Sabtu, 20 Ramadhan 1440 / 25 Mei 2019

Tiga Strategi Kemenpar Pasarkan Wisata Halal Indonesia

Senin 12 Nov 2018 11:49 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Indira Rezkisari

Pemandu wisata memberikan penjelasan kepada turis mancanegara di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (28/1). Jakarta merupakan salah satu destinasi wisata halal Indonesia.

Pemandu wisata memberikan penjelasan kepada turis mancanegara di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (28/1). Jakarta merupakan salah satu destinasi wisata halal Indonesia.

Foto: Republika/Putra M Akbar
Destinasi wisata halal Indonesia akan dipasarkan sesuai preferensi asal wisatawan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, melalui Tim Percepatan Pengembangan Wisata Halal menjalankan sejumlah strategi untuk melakukan promosi. Ketua tim, Riyanto Sofyan menyampaikan saat ini sedang fokus pada tiga program.

Pertama adalah konsep pemasaran berdasarkan destination, origin, time. Destinasi wisata halal di Indonesia dipasarkan sesuai dengan preferensi asal calon wisatawan. Konsep ini diterapkan pada pelancong asing.

"Kita kategorikan wisatawan dari tiga daerah utama, Eropa, Asia, dan Timur Tengah, mereka ini punya preferensi yang berbeda-beda untuk tempat wisata," kata Riyanto, beberapa waktu lalu.

Seperti pelancong asal Timur Tengah lebih menyukai tipe destinasi alam, pelesiran di resor, dan banyak perbelanjaan. Pelancong Eropa lebih menyukai yang bersifat petualangan, warisan budaya, kuliner dan juga pemandangan alam.

Wisatawan Asia mirip seperti Indonesia, lebih menginginkan wisata religi yang kental dengan budaya, pemandangan, perkembangan Islam modern hingga berbelanja. Riyanto mengatakan mempertimbangkan preferensi sangat penting untuk pendekatan dalam jalur pemasaran yang berbeda-beda.

Kedua, strategi promosi ada pada branding, advertising, dan selling. Kementerian Pariwisata, menurutnya, berupaya agar Indonesia bisa mendapatkan penghargaan agar lebih dikenal. Ini merupakan salah satu strategi untuk branding.

"Ketika Lombok kemarin jadi juara destinasi wisata halal favorit, November 2015 dapat, November 2016 jumlah wisatawan naik 40 persen. Dari kunjungan satu juta menjadi 1,4 juta orang," kata dia.

Ini membawa pengaruh signifikan pada warga sekitar. Riyanto menyebut seorang warga yang berjualan makanan khas Lombok dodol rumput laut bisa menghasilkan omzet hingga Rp 30 juta per bulan dari Rp 1,5 juta awalnya.

Ketiga adalah strategi media, melalui endorser, media sosial, juga media umum. Penyebaran informasi sangat penting agar promosi sampai pada tujuan. Strategi ini juga biasanya dilakukan berbarengan ketika masa penjualan di berbagai negara promosi.

Pada dasarnya, kata Riyanto, pemasaran wisata halal mirip seperti pemasaran wisata pada umumnya. Jadi jalur-jalur pemasarannya juga mengikuti. Saat pemerintah mengikuti pameran wisata di luar negeri, ada pemasaran wisata halal yang diselipkan.

Mastercard-CrescentRating melalui Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018 menempatkan Indonesia di posisi kedua untuk indeks wisata halal dunia. Posisi Indonesia berjejeran dengan Uni Emirate Arab. Peringkat pertama lagi-lagi ditempati oleh juara tahun sebelumnya, Malaysia.

Berdasarkan laporan Thomson Reuters dalam Global Islamic Economy Report 2016-2017, pengeluaran turis muslim tahun 2015 sebesar 151 miliar dolar AS. Diperkirakan tahun 2021, pengeluaran turis Muslim yang ke luar negeri bisa mencapai angka 243 miliar dolar AS.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA