Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Iluni UI Beri Bantuan Kemanusiaan Lanjutan di Sulteng

Kamis 01 Nov 2018 12:18 WIB

Red: Budi Raharjo

Alat berat membersihkan sisa bangunan dan meratakannya dengan tanah di area bekas gempa dan pencairan tanah (likuifaksi) di Kelurahan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (31/10). Lokasi yang hancur akibat gempa dan likuifaksi itu kini mulai dibersihkan dan diratakan untuk mengurangi trauma warga.

Alat berat membersihkan sisa bangunan dan meratakannya dengan tanah di area bekas gempa dan pencairan tanah (likuifaksi) di Kelurahan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (31/10). Lokasi yang hancur akibat gempa dan likuifaksi itu kini mulai dibersihkan dan diratakan untuk mengurangi trauma warga.

Foto: Mohammad Hamzah/Antara
Mereka juga sedang menyelesaikan pembangunan hunian sementara bagi masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) melakukan kegiatan kemanusiaan di tiga wilayah terdampak bencana di Sulawesi Tengah (Sulteng). Program UI Peduli ini merupakan kerja sama Iluni UI dengan Fakultas Kedokteran UI atau Rumah Sakit Pusat Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM), Komunitas Biduan, Bale Nusa Indonesia, serta Gala Dana Palu Sigi dan Donggala.

Kegiatan pengumpulan dana ini diprakarsai oleh Triawan Munaf dan Loemongga Kartasasmita dengan melibatkan banyak relawan. Termasuk musisi yang memberikan konser gratis sebagai bagian pengumpulan dana.  

Ketua ILUNI UI sekaligus Koordinator Program Community Development untuk Palu, Sigi dan Donggala, Endang Mariani, mengatakan dukungan psikososial awal untuk para penyintas bencana di tahap tanggap darurat, juga diberikan dengan menyasar pada kelompok rentan. Kelompok ini terdiri dari anak-anak dan balita, wanita dan ibu hamil, orang tua serta para penyandang disabilitas.

"Bantuan pertolongan pertama psikologis (Psychological First Aid) diberikan dengan mengacu pada prinsip-prinsip dasar yang utamanya memberikan rasa tenang, aman dan nyaman pada para penyintas bencana," ujar Endang.

Para penyintas bencana ini mengalami kejadian traumatis, yang menyebabkan sebagian besar dari mereka terpaksa kehilangan rumah tinggal, harta benda dan bahkan orang-orang tercinta. Oleh karena itu, ujar Endang, berbagai kegiatan pendampingan psikososial dan psikoedukasi diberikan dengan melibatkan para alumni UI yang memiliki berbagai latar belakang yang berbeda.

"Bukan hanya mereka yang berasal dari bidang ilmu psikologi, tetapi juga medis, ilmu sosial dan perilaku, teknik, dan bahkan ilmu-ilmu murni," kata Endang menjelaskan kepada pers, Kamis (1/11), di Sekretaraiat Ilui UI Gedung Rektorat UI, Salemba, Jakarta. Endang didampingi Ketua Umum Iluni UI Arief Budhy Hardono, Direktur Utama RSCM Lies Dina Liastuti, Ketua Community Development Center Iluni UI Irvan Toreza, dan Sekjen Iluni UI Andre Rahadian.

Pada tahap tanggap darurat, kegiatan diawali gerak cepat Tim Medis RSCM/FKUI. Para dokter dan tenaga kesehatan alumni UI hadir untuk memberikan bantuan di Palu, dua hari setelah  bencana terjadi. Selain itu, Iluni UI juga mengirimkan bantuan logistik berupa bahan makanan dan kebutuhan hidup para penyintas bencana di titik-titik pengungsian.

Antara lain bantuan disalurkan di sekitar kota Palu, desa Bangga-kabupaten Sigi; desa Lende dan Lende Tovea di Sirenja, serta desa Apemaliko di Sindue, kabupaten Donggala. Iluni UI juga sedang menyelesaikan pembangunan hunian sementara bagi masyarakat terkena bencana yang saat ini masih tinggal di tenda-tenda darurat.

Dirut RSCM Lies Dina Liastuti mengatakan, selama menjalankan program UI Peduli, tim RSCM/FKUI melakukan berbagai kegiatan. Di antaranya triage bencana, operasi, layanan gawat darurat, transportasi dan mobilisasi pasien, perawatan pasien, pertolongan bayi—termasuk bayi prematur, pelatihan untuk staf rumah sakit, serta layanan kesehatan di kantong-kantong pengungsian.

Kehadiran Tim Medis RSCM/FKUI dinilai sangat bermanfaat oleh masyarakat terdampak bencana di Sulawesi Tengah. "Dalam situasi darurat kebencanaan, layanan dengan standar tertinggi yang mungkin diberikan RSCM/FKUI menjadikan  menjadi salah satu rujukan operatif," ujar Lies Dina.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA