Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Musibah Ini Seperti Mimpi...

Selasa 30 Oct 2018 06:27 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Andi Nur Aminah

Keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang, Lydia Levina (tengah) berada di Crisis Center Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (29/10/2018).

Keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang, Lydia Levina (tengah) berada di Crisis Center Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (29/10/2018).

Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Dito masih berusaha optimistis adanya informasi baik tentang pamannya.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Siang menjelang sore, Senin (29/10), suasana di Gedung Instalasi Pelayanan Disaster Victim Identification (DVI) mulai dipenuhi keluarga dan kolega korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610. Mereka datang untuk menyerahkan dokumen-dokumen terkait proses ante mortem sambil berharap adanya informasi lanjutan tentang keluarga mereka.

Raut wajah Dito Apreno (35) nampak lesu begitu keluar dari Posko Ante Mortem RS Polri. Di dalam posko, ia menyerahkan dokumen ante mortem pamannya yang merupakan Anggota DPRD Bangka Belitung, Dolar. Dito menyerahkan dokumen ante mortem berupa ijazah, foto diri terakhir, serta ciri fisik pamannya. Di tengah kemurungan tersebut, Dito masih berusaha optimistis adanya informasi baik tentang pamannya. "Sejauh ini keluarga masih berharap masih ada harapan tentang Oom (paman)," ujarnya.

 

Dito menceritakan perihal harapan keluarga terkait nasib pamannya. Menurutnya setelah menghubungi pihak Lion, ia mendapat informasi bahwa sang paman terlambat menuju penerbangan JT-610. Dari kabar itulah keluarga berusaha yakin jika Dolar selamat, namun ketika dikonfirmasi lebih lanjut ke petugas Bandara Soekarno-Hatta, sang paman ternyata dapat mengikuti penerbangan dengan nomor kursi 32-A. "Ternyata Oom saya ada di penerbangan itu (JT-610) di kursi 32-A," ujarnya dengan suara rendah.

photo

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memeluk salah satu keluarga dari jajaran Kementerian Keuangan yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 saat berkunjung di Crisis Center Lion Air Bandara Soekarno- Hatta, Tangerang, Banten, Senin (29/10/2018).

Dito menceritakan komunikasi terakhir dengan pamannya sehari lalu. Ia mengaku, pembicaraan terakhir dengan pamannya itu hanya seputar kerjaan, ia tak menyangka hal itu akan menjadi momen terakhir mendengar suara pamannya.

Sehari sebelumnya, Dito tak tahu pamannya sedang berada di Jakarta. Untuk itu, sebelum kejadian jatuhnya pesawat JT-610 tersebut, Dito berniat menemui pamannya di Bangka Belitung pada Senin (29/10) dengan penerbangan Lion Air pukul 06.00 yang ia cari tiketnya dari Traveloka.

Ia mengaku ingin memilih penerbangan di hari dan jam itu karena terhitung murah. Namun begitu ingin checkout pembayaran, Dito tak sempat melanjutkan transaksinya karena tiba-tiba ada customer yang ingin membeli mobil di showroom miliknya. Dito pun akhirnya mengambil tiket penerbangan sore di hari yang sama.

Dito sama sekali tak menyangka jika pamannya justru berada di Jakarta pada Ahad (28/10) dan berniat melakukan perjalanan ke Bangka Belitung pada Senin (29/10). Setelah mendengar jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 yang mengangkut pamannya, ia cukup terkejut karena ternyata sang paman ada di Jakarta.

Sementara itu keluarga korban lainnya David (48) menyatakan kejadian jatuhnya Lion Air JT-610 yang mengangkut Syahrudin (56) kakaknya, seperti mimpi yang mengejutkan. Sambil memandang jauh, ia menunjukkan raut wajah belum percaya dengan apa yang ia dengar tentang kakaknya. "Musibah ini seperti mimpi," ujarnya.

 

photo

Orang tua salah seorang penumpang pesawat jatuh Lion Air JT610 atas nama Arif Yustian menunjukan foto anaknya, di rumahnya di kawasan Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Senin (29/10/18).

David menyebut, Syahrudin merupakan pegawai Imigrasi asal Pangkal Pinang yang berdomisili di Tangerang. Baginya, musibah ini merupakan mimpi yang tak pernah ia sangka. Pasalnya, sang kakak setiap Senin pagi selalu pulang ke Pangkal Pinang. Ketika pukul 7.30 WIB, Senin (29/10) belum ada kabar kedatangan kakaknya, David mulai curiga dan berpikir tak enak.

Begitu ia melihat berita terkait jatuhnya pesawat Lion Air JT-610, ia segera mencari tahu kabar lanjutan mengenai sang kakak. Menurutnya, betapa terkejut dan pilunya begitu ia tahu kakaknya merupakan penumpang Lion Air JT-610 dengan nomor kursi 11-D.

David tak menyangka, rutinitas yang dilakukan kakaknya tiba-tiba berubah menjadi kabar yang membuatnya seperti bermimpi,  mimpi yang tak pernah ingin ia alami. "Ini seperti mimpi, mimpi yang sulit diterima," ujarnya. 

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA