Kamis, 15 Zulqaidah 1440 / 18 Juli 2019

Kamis, 15 Zulqaidah 1440 / 18 Juli 2019

PP Pemuda Muhammadiyah Nilai Tindakan Reaksioner Kurang Elok

Jumat 26 Okt 2018 06:00 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Muhammad Hafil

Umat muslim di Tasikmalaya menggelar aksi bertema Dakwah Kalimat Tauhid on the Sreet di depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (24/10). Aksi ini sebagai bentuk protes atas insiden pembakaran bendera tauhid di Garut.

Umat muslim di Tasikmalaya menggelar aksi bertema Dakwah Kalimat Tauhid on the Sreet di depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (24/10). Aksi ini sebagai bentuk protes atas insiden pembakaran bendera tauhid di Garut.

Foto: Republika/Eric Iskandarsjah Z
Umat Islam diminta menahan diri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid, berkembang menjadi aksi protes di kalangan umat Islam. Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Sunanto mengimbau agar exponen umat Islam Indonesia untuk memperkuat kesabaran dengan menahan diri dari rasa amarah.

"Tindakan-tindakan reaksioner justru akan kurang elok dipandang bagi kesatuan umat Islam di Indonesia," kata Sunanto kepada wartawan, Kamis (25/10).

Menurutnya berbagai pihak telah banyak yang menyayangkan adanya aksi pembakaran bendera tersebut. Termasuk dari PBNU sendiri, seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siroj.

Atas dasar itu, ia berharap kelompok umat Islam bisa menahan diri dari perpecahan dan upaya saling menyalahkan sesama kelompok umat Islam.

Sunanto menilai idealnya sahabat Banser, sesama ormas kepemudaan, meminta maaf. Karena alasan mengamankan bendera berkalimat tauhid tersebut, sebenarnya cukup dengan menyerahkan bendera ke pihak keamanan. Bukan membakarnya secara terbuka di arena peringatan hari santri nasional.

Faktanya, aksi itu menimbulkan gejolak di tengah kehidupan masyarakat muslim Indonesia. Artinya ada pro dan kontra terkait aksi di Garut tersebut. Namun Sunanto yang juga dikenal sebagai Kornas JPPR ini bersyukur dan mengapresiasi adanya etiket baik dari teman-teman GP Ansor untuk meminta maaf di depan publik dan menyesali kejadian itu.

"Langkah itu dipandang positif di tengah mencuatnya ekpresi kemarahan sebagian umat Islam," kata pria yang akrab disapa Cak Nanto ini.

Dalam konteks itu, Cak Nanto selaku ketua PP Pemuda Muhammadiyah juga mengimbau agar umat Islam menahan diri dari rasa marah. Ketika mampu mengendalikan amarah, akan mampu maafkan bagi siapapun yang dipandang memiliki kesalahan.

Kepada semua exponen umat Islam, Sunanto mengimbau semua pihak untuk duduk bersama, membincangkan tentang ukhuwah islamiyah, demi masa depan umat Islam. Apalagi di tengah dinamika politik yang memanas jelang pemilu 2019.

Menurutnya, langkah-langkah konstruktif dibutuhkan untu meredakan ketegangan diantara semua anak bangsa, khususnya dari umat Islam. "Bahasa anak mudanya perlu ngopi untuk meningkatkan silaturahim dan muzakarah," imbuh Sunanto.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA