Wednesday, 8 Safar 1440 / 17 October 2018

Wednesday, 8 Safar 1440 / 17 October 2018

Lokasi Likuifaksi di Palu akan Jadi Ruang Terbuka Hijau

Jumat 12 Oct 2018 14:24 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Bayu Hermawan

Suasana wilayah  Petobo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, tampak berantakan, Kamis (11/10).

Suasana wilayah Petobo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, tampak berantakan, Kamis (11/10).

Foto: Darmawan / Republika
Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya bencana serupa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berencana akan membangun Monumen Bencana Likuifaksi di Wilayah Kelurahan Petobo dan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah. Sesuai dengan rekomendasi Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), di lokasi terjadinya bencana likuifaksi tidak lagi dijadikan sebagai lokasi hunian agar tidak terulang hal yang sama seperti yang saat ini terjadi.

"Menurut laporan yang saya terima dari Badan Geologi, daerah ini dahulunya adalah swamp (rawa-rawa) sehingga memungkinkan atau rawan terhadap terjadinya likuifaksi. Dan untuk menghindari agar tidak terjadi hal sama, Badan Geologi akan memetakan wilayah-wilayah yang rawan terjadinya likuifaksi," ujar Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar melalui siaran persnya, Jumat (12/10).

Arcandra mengatakan, wilayah terdampak likuifaksi tinggi tidak layak untuk didiami. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah akan menjadikannya sebagai monumen dalam bentuk ruang terbuka hijau.

Hal ini sesuai dengan rekomendasi yang dikeluarkan Badan Geologi bahwa rekonstruksi dan rehabilitasi pascagempa di Sulawesi Tengah hendaknya mengacu pada Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gempa Bumi, Peta KRB Tsunami dan Peta Potensi Likuifaksi yang diterbitkan oleh Badan Geologi.

Wilayah Palu dan sekitarnya menurut Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar merupakan wilayah dengan potensi tinggi untuk terjadinya likuifaksi. Tiga wilayah yang mengalami kejadian bencana likuifaksi, pertama Kelurahan Petobo, kedua Balaroa, dan ketiga Kelurahan Jono Oge di Kabupaten Sigi.

Dari ketiga wilayah itu, dua lokasi direkomendasikan untuk tidak didiami yakni Kelurahan Petobo dan Balaroa, karena kedua lokasi ini mengalami bencana likuifaksi yang masif sedangkan Jono Oge tidak.

"Informasi dari Pemerintah Daerah, bahwa wilayah yang terkena bencana likuifaksi tidak akan dihuni dan akan dijadikan semacam memorial park, karena dua wilayah ini sudah tidak stabil lagi untuk didirikan bangunan dan dua wilayah ini berdasarkan Peta Likufaksi tahun 2012 merupakan wilayah dengan potensi terjadinya likuifaksi tertinggi," ujar Rudy.

Kepala Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Tengah, Yanmart Nainggolan mengatakan, "Saat ini kita sedang menunggu hasil kerja dari tim Badan Geologi yang sedang memetakan lokasi-lokasi mana yang stabil, mana yang tidak. Hasil kerja Badan Geologi tersebut akan dimasukkan dalam Peta Tata Ruang yang menjadi pedoman dalam melaksanakan tata ruang mana lokasi red area, yellow area dan lokasi green area," jelas Yanmart.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA