Sunday, 13 Muharram 1440 / 23 September 2018

Sunday, 13 Muharram 1440 / 23 September 2018

Cara Pulihkan Kondisi Psikologis Korban Gempa Lombok

Sabtu 11 August 2018 04:20 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Esthi Maharani

Tim Pshycological First Aid (PFA) Dompet Dhuafa melakukan kegiatan penilaiai stres dan trauma, play terapy, konseling pada anak yang trauma gempa Lombok.

Tim Pshycological First Aid (PFA) Dompet Dhuafa melakukan kegiatan penilaiai stres dan trauma, play terapy, konseling pada anak yang trauma gempa Lombok.

Foto: Istimewa
Satu psikolog menangani satu korban langsung

REPUBLIKA.CO.ID, LOMBOK -- Tim Pshycological First Aid (PFA) Dompet Dhuafa melakukan sejumlah kegiatan untuk memulihkan kondisi psikologis korban gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat. Metode pemulihan tersebut tergantung pada kategori usia korban.

Psikolog Koordinator Respons dukungan psikologis untuk bencana Lombok dan aktivis kemanusiaan DD, Maya Sitta mengatakan, secara umum tim melakukan penilaian terhadap kondisi psikologis korban terlebih dahulu. Kemudian baru menentukan bentuk terapinya.

"Kita biasanya penilaian dulu, kira-kira bagaimana kondisi stres atau traumanya. Karena korban itu tidak langsung trauma, trauma adalah stres yang berkepanjangan, setiap bencana pasti stres, tapi tidak semua jadi trauma, tergantung daya tahan mereka," kata Maya pada Republika, Jumat (10/8)

photo

Tim Pshycological First Aid (PFA) Dompet Dhuafa melakukan kegiatan penilaiai stres dan trauma, play terapy, konseling pada anak yang trauma gempa Lombok. (Istimewa)

Ia mengatakan kondisi anak-anak pada umumnya mengalami trauma. Apalagi setelah gempa besar berturut-turut. Stres mereka belum pulih akibat gempa pertama sudah diguncang kembali oleh gempa susulan yang juga berkekuatan besar.

Untuk memulihkan kondisi tersebut, tim melakukan treatment one on one. Artinya satu psikolog menangani satu korban langsung. Jika menunjukkan satu perilaku tidak baik dan menuju trauma berat maka korban dirujuk pada pihak profesional yang lebih lanjut.

Pada anak-anak, tim mengajak untuk bergerak bersama, bermain, relaksasi sederhana, bermain berkelompok. Sementara untuk kelompok remaja, tim menggelar acara berbagi antar sesamanya agar bisa saling mendukung. Dukungan dari teman sebaya ini vital untuk mereka peroleh.

Kategori orang tua pun mendapatkan pertolongan psikologis. Mulai dari saling berbagi kisah, relaksasi, pemberian materi kerohanian, konseling, hingga diberi materi parenting tentang bagaimana mengatasi masalah pada anak yang menghadapi krisis.

Dalam pelaksanaannya, tim merangkul dan melibatkan sumber daya manusia lokal untuk kaderisasi. Agar mereka dapat melakukan penyembuhan sendiri dan menyebarkannya pada korban lain yang membutuhkan.

"Karena ini kemungkinan bisa panjang, lama dan tidak singkat, kita ingin saudara-saudara kita, para orang tua punya keahlian untuk melakukan rilis stresnya masing-masing," kata Maya.

Ia berharap hal ini bisa bermanfaat di kemudian hari dan mengefisienkan kinerja. Pasalnya, sulit jika harus membawa tenaga ahli dari pusat sehingga transfer pengetahuan sangat perlu dilakukan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Parade Asian Para Games 2018

Ahad , 23 September 2018, 12:13 WIB