Monday, 11 Syawwal 1439 / 25 June 2018

Monday, 11 Syawwal 1439 / 25 June 2018

Tolak Radikalisme-Terorisme, PMII Gelar Aksi di Tiga Lokasi

Sabtu 09 June 2018 21:37 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Didi Purwadi

Aktivis PMII saat melakukan aksi menolak radikalisme dan terorisme.

Aktivis PMII saat melakukan aksi menolak radikalisme dan terorisme.

Foto: PMII
PMII mendukung upaya pemerintah dan Polri memberantas paham radikalisme-terorisme.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar aksi dengan tagar #halaqohpergerakanlawanterorisme. Aksi tersebut digelar di tiga titik yakni di Jalan SarinahTamrin, Tugu Tani dan perempatan Atrium.

Ketua Bidang Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) Pengurus Besar (PB) PMII, Muhammad Syarif Hidayatullah mengatakan, kegiatan tersebut sengaja dilakukan menanggapi perihal bom bunuh diri beberapa waktu lalu. Karenanya, Indonesia kembali berduka atas peristiwa teror di beberapa lokasi itu.

Oleh karena itu, PB PMII menggelar kampanye menolak paham radikalisme dan terorisme di Indonesia. Serta mendukung upaya pemerintah dan Polri untuk melakukan pemberantasan paham tersebut karena bertentangan dengan asas bangsa Indonesia.

"Radikalisme dan terorisme kini menjadi musuh baru umat manusia, meskipun akar radikalisme telah muncul sejak lama,'' kata Muhammad Syarif melalui siaran pers, Sabtu (9/6). ''Namun, peristiwa peledakan bom akhir-akhir ini seakan mengantarkan fenomena ini sebagai musuh kontemporer sekaligus sebagai musuh abadi.''

Syarif menuturkan banyak pihak mengembangkan spekulasi secara tendensius bahwa terorisme berpangkal dari fundamentalisme dan radikalisme agama, terutama Islam. Tak heran jika kemudian Islam seringkali dijadikan 'kambing hitam' atas aksi-aksi teror yang terjadi.

Namun, lanjutnya, tidak sedikit pula yang percaya bahwa motif radikalisme dan terorisme tidaklah bersumber dari aspek yang tunggal. Kesadaran ini membawa keinsyafan bahwa upaya penanganannya juga tidak bersifat parsial, namun perlu pendekatan komprehensif secara integral.

Menurut Syarif, sejak bergulirnya reformasi di Indonesia tahun 1998, radikalisme dan terorisme menjadi ramai diperbincangkan. Reformasi membuka kran demokrasi yang selama rezim Orde Baru berkuasa tertutup, menjadi terbuka lebar.

"Alhasil, ruang eskpresi yang terbuka lebar mendorong lahirnya banyak organisasi dan gerakan keagamaan," kata Syarif.

Ketua Umum PB PMII, Agus Mulyono Herlambang, sebelumnya mengungkapkan betapa mirisnya perjuangan para pahlawan untuk memerdekakan Indonesia. Namun setelah merdeka dengan berdarah-darah dan penuh perjuangan, kini dirusak oleh anak keturunan sendiri dengan aksi-aksi teror itu.

"Ini mengingatkan kita pada ucapan sang proklamator bangsa, bahwa benar 'Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri'," ujar Syarif.

PMII sebagai organisasi ekstra mahasiswa yang komitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia sangat miris dengan tindakan teror di luar nalar ini. ''Maka dari itu, saya berharap kepada seluruh rakyat Indonesia terutama kepada generasi muda dan orang tua untuk menanamkan cinta terhadap bangsanya sendiri sebagai bentuk pengabdiannya untuk memelihara, membela, melindungi tanah airnya dari segala ancaman dan gangguan,'' katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES