Monday, 4 Syawwal 1439 / 18 June 2018

Monday, 4 Syawwal 1439 / 18 June 2018

Pengurus NU Apresiasi Polri Tangani Teroris di Mako Brimob

Sabtu 12 May 2018 07:40 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Endro Yuwanto

Penjagaan ketat terlihat di depan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, serta dihiasi sejumlah karangan bunga yang dikirimkan dari pejabat negara, Jumat (11/5).

Penjagaan ketat terlihat di depan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, serta dihiasi sejumlah karangan bunga yang dikirimkan dari pejabat negara, Jumat (11/5).

Foto: Republika/Rahma Sulistya
Syarif menyayangkan reaksi sebagian pihak yang gampang menuding dan menyalahkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengurus teras Nadhlatul Ulama (NU), KH M Syarif mengatakan, kepolisian telah menunjukkan kelasnya dalam mengakhiri kerusuhan narapidana terorisme di Mako Brimob, Depok. Di tengah kemarahan karena kelima anggotanya dibunuh dengan keji, Polri mampu bertindak profesional dengan menahan diri agar tidak menyerang secara brutal.

"Ini berkat tangan dingin Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian yang memilih pendekatan soft approach. Dialah pengatur strategi operasi meski saat kejadian sedang berada di Yordania," ujar Syarif dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Sabtu (12/5).

Syarif yang juga sebagai Plt Rektor UIN Pontianak mengatakan, dalam situasi kericuhan yang disertai penyanderaan anggota kepolisian oleh narapidana terorisme, maka pendekatan penanggulangan mesti didahulukan sebelum aksi penyergapan dan penyerangan atau hard approach. Sebab jika cara yang terakhir ini justru didahulukan, sambungnya, kemungkinan besar akan memperbanyak jatuhnya korban.

"Di dalam (ruang tahanan, red) kan ada sejumlah anggota polisi yang disandera. Tentu tak bisa gegabah langsung diserang, bisa lebih fatal lagi kalau begitu," jelas Syarif.

Syarif melanjutkan, penanggulangan terorisme melalui pendekatan lunak memang butuh waktu, tak secepat pendekatan yang mengandalkan cara-cara kekerasan. Polisi bahkan butuh waktu sekitar 36 jam untuk mengambilalih keadaan. Oleh karena itu, Syarif meminta agar tidak salah memahami. Apalagi dengan cepat menuding polisi lamban dan tidak tegas.

Selain itu, Syarif juga menyayangkan reaksi sebagian pihak yang gampang menuding dan menyalahkan pihak tertentu serta menyeretnya ke masalah politis. Sikap itu dinilai sama sekali tidak menguntungkan bagi spirit penanganan dan penganggulangan terorisme di Indonesia. "Jadi, janganlah memperkeruh suasana," jelasnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES