Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Rhenald Kasali: Transportasi Daring Lebih Efisien

Kamis 05 Apr 2018 13:06 WIB

Red: Ani Nursalikah

Para pengemudi perempuan ikut serta pada aksi ribuan pengemudi transportasi berbasis aplikasi online di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (16/10).

Para pengemudi perempuan ikut serta pada aksi ribuan pengemudi transportasi berbasis aplikasi online di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (16/10).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Keberadaan transportasi online itu memangkas waktu tempuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat sekaligus Guru Besar Ekonomi asal Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali menilai keberadaan transportasi online atau daring memiliki nilai-nilai efisiensi.

"Dari segi platform, transportasi online itu adalah revolusi kehidupan dan dampaknya sangat besar. Di sisi lain, transportasi online juga memiliki nilai efisiensi," kata Rhenald dalam rilis, Kamis (5/4).

Menurut dia, efisiensi yang diciptakan melalui layanan transportasi daring itu, yakni waktu tempuh yang dipersingkat. Selain itu, transportasi daring juga dinilai dapat membantu mengatasi masalah kemacetan dan polusi.

"Keberadaan transportasi online itu memangkas waktu tempuh orang-orang untuk menuju suatu tempat. Transportasi online juga bisa mengurangi kemacetan karena tidak harus menambah kendaraan," ujar Rhenald.

Dia menuturkan hasil riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) menunjukkan salah satu penyedia layanan transportasi daring, yaitu Gojek berkontribusi sebesar Rp 9,9 triliun pada perekonomian Indonesia setiap tahunnya. "Angka yang disebutkan oleh Lembaga Demografi itu sebetulnya sudah benar, tapi masih kurang besar angkanya. Dugaan saya, angka dampaknya lebih besar dari itu," kata Rhenald.

Dia mengungkapkan ada hal lain yang belum diperlihatkan melalui riset tersebut, yaitu nilai efisiensi yang diciptakan melalui transportasi daring. Selain itu, dia juga menilai seharusnya layanan transportasi daring, misalnya Gojek dilihat sebagai platform yang lintas industri.

"Mendefinisikan start-up baru bukan semata-mata dari single product. Yang pertama harus dilihat adalah platformnya, yang kedua adalah nilai efisiensinya," ujar Rhenald.

Pengamat ekonomi asal Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menambahkan selain nilai efisiensi, transportasi daring juga memberikan dampak terhadap sumber daya manusianya. Dia mengatakan rata-rata penghasilan pengemudi transportasi daring mencapai Rp 3.300.000 atau melampaui Rp 2.800.000 yang sama dengan nilai rata-rata Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di sembilan wilayah.

"Jadi, bisa dikatakan bekerja sebagai pengemudi transportasi online ternyata lebih feasible (layak). Ini bisa menjadi alternatif pekerjaan, terutama di sektor informal," kata Tony.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA