Monday, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 December 2018

Monday, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 December 2018

Jangan Percaya Media tak Terverifikasi

Jumat 16 Mar 2018 03:46 WIB

Red: Ratna Puspita

Melawan Hoax. Ilustrasi

Melawan Hoax. Ilustrasi

Foto: Sciencealert
Saat ini terdapat 4.153 media yang telah terverfikasi oleh Dewan Pers.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH — Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Prof Dr Yusny Saby, PhD menegaskan masyarakat agar tidak mudah percaya berita pada media online yang tidak terverifikasi Dewan Pers. "Kami merespons upaya keras Dewan Pers dalam menertibkan media-media online yang saat ini bertebaran dan banyak belum terverifikasi," katanya pada acara Literasi Digital Sebagai Upaya Mencegah Paham Radikalisme di Masyarakat di Banda Aceh, Kamis (15/3).

Pada acara yang digagas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Yusny Saby menyatakan, apa yang sedang dilakukan Dewan Pers dengan melakukan verifikasi portal berita perlu didukung.

Ia menegaskan, apabila datang berita, sebaiknya masyarakat melakukan tabayun atau mencari informasi yang benar tentang berita itu. Jika itu tidak dilakukan maka akan merusak dan merugikan masyarakat.

"Jangan mudah tergoda dengan apa yang diberitakan oleh media yang sama sekali tidak terverfikasi oleh Dewan Pers," pesan Yusny Saby.

Sebelumnya, anggota Dewan Pers Bidang Hukum Anthonius Jimmy Silalahi mengatakan, saat ini terdapat 4.153 media yang telah terverfikasi. Kegiatan literasi digital diikuti oleh 105 peserta dari unsur pers mahasiswa, komunitas, dan para blogger di Aceh.

Ketua Panitia Literasi Digital, Arif Ramdan mengatakan, kegiatan literasi tahun 2018 ini merupakan awal dari rangkaian kegiatan FKPT Aceh. "Sasaran kegiatan ini para pelaku pers mahasiswa, komunitas, blogger, dan unsur pemuda di Aceh," katanya saat memberikan sambutan pada kegiatan itu.

Arif Ramdan mengajak seluruh peserta nantinya menjadi agen perubahan bagi tersedianya konten positif di sosial media. "Literasi digital ini diharapkan menjadi salah satu upaya pencegahan penyebaran paham radikal dan terorisme di masyarakat dengan menciptakan konten positif dan mendidik di sosial media," katanya.

Kegiatan ini menghadirkan Anggota Dewan Pers Anthonius Jimmy Silalahi, Direktur Masyarakat Informasi Teknologi (MIT) Aceh Teuku Farhan, dan Randy Wisnu seorang Youtuber dari Cameo Project. Peserta mendapatkan pengetahuan tentang peta Sosial Media di Aceh, Portal Berita Resmi dan Portal berita abal-abal.

Sementara itu, Ketua FKPT Aceh Prof Dr M Hasbi Amiruddin, MA mengatakan, medsos saat ini telah merusak tatanan masyarakat. Pola meneruskan informasi tanpa menyaring sering menjadi pemicu emosi di masyarakat. "Ke depan ini, kita akan menghadapi tahun politik hindari meneruskan hal yang tidak bermanfaat bagi kita. Jika ada yang tak manfaat muncul di media sosial, cukup sama kita saja jangan disebar lagi," kata Prof Hasbi. 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES