Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Taufik Ismail: PKI Memang Sudah tidak Ada, tapi PKI Bangkit

Rabu 07 Mar 2018 01:01 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Agus Yulianto

Taufik Ismail

Taufik Ismail

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Ideologi PKI ini sudah masuk ke semua lini, termasuk ke partai-partai.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Aktivis dan sastrawan Indonesia, Taufik Ismail menyebut, Partai Komunis Indonesia memang sudah tidak ada lagi di Indonesia hingga saat ini. Namun, PKI sekarang sudah mulai bangkit untuk melanjutkan balas dendam atas kekalahan PKI di waktu dulu.

"Kalau bicara tentang PKI, PKI memang sudah tidak ada. Tetapi PKI bangkit dan namanya sekarang komunis gaya baru," ujar Taufik Ismail dalam diskusi publik yang mengusung tema 'Isu Kebangkitan PKI; Realita atau Propaganda' di Jakarta, Selasa (6/3).

Dalam diskusi tersebut hadir juga sebagai pembicara aktivis politik Kivlan Zein. Taufik pun menggaris bawahi apa yang dipaparkan Kivlan dalam forum didkusi yang dikawal kepolisian dan TNI tersebut. Menurut Taufik, Komunis Gaya Baru (KGB) yang disebut Kivlan merupakan PKI yang bangkit.

"Saya ingin garis bawahi apa yang disampaikan Pak Kivlan Zein yaitu tentang masalah melanjutkan dendam dari KGB, Komunis Gaya Baru. KGB itu adalah PKI yang bangkit," ucapnya.

Sementara itu, Kivlan Zein sendiri mengungkapkan bahwa kebangkitan PKI merupakan sebuah fakta, bukan lagi sebuah propaganda. Bahkan, kata dia, ideologi PKI ini sudah masuk ke semua lini, termasuk ke partai-partai. "Benar sekarang mereka mencoba untuk masuk dalam semua lini, di dalam partai-partai, paling banyak di dalam PDIP. Data-datanya ada sama saya kok, bukan bohong," kata Kivlan saat menjadi pembicara dalam diskusi tersebut.

Menurut dia, pada tahun 2015 lalu, PDIP bahkan mengirimkan kader-kadernya ke Partai Komunis Cina untuk belajar ilmu politik dan pengkaderan. Karena itu, Kivlan berharap agar PDIP menarik beberapa orang yang diduga memiliki ideologi komunis.

"Sebaiknya PDIP itu menarik lah, orang-orang seperti Eva Kusuma Sundari, Rieke Dyah Pitaloka, Budima Sudjatmiko. Dia membuat buku itu, janganlah dimasukan jadi pimpinan lagi. Kan ucapan-ucapan seperti itu yang mengonotasikan orang PDIP dekat dengan komunisme. Jadi kita harapkan sebagai partai kekuatan nasionalis Pancasila," ungkap Kivlan.

Tidak hanya PDPI, tambahnya, partai lainnya seperti Nasdem dan Golkar juga mengirimkan kadernya ke Cina untuk dikader komunis. "Yang mengirimkan pengkaderan ke Cina kan ada Golkar, Nasdem, juga mengirimkan pengkaderan ke sana. Jadi jelas bukan hanya PDIP, tapi Golkar dan Nasdem yang memberikan kadernya ke Cina," jelasnya.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA