Wednesday, 11 Zulhijjah 1439 / 22 August 2018

Wednesday, 11 Zulhijjah 1439 / 22 August 2018

Jangan Adu Domba Umat Beragama

Senin 12 February 2018 05:31 WIB

Rep: Muhyiddin, Wahyu Suryana/ Red: Elba Damhuri

Petugas kepolisian melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kasus penyerangan di Gereja Katholik St. Lidwina, Jambon, Trihanggo, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, Ahad (11/2).

Petugas kepolisian melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kasus penyerangan di Gereja Katholik St. Lidwina, Jambon, Trihanggo, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, Ahad (11/2).

Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko
Serangan ke Gereja Santa Lidwina tidak bisa diterima karena mengganggu kerukunan.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA – Kejadian penyerangan gereja di Yogyakarta yang tak berselang lama dari penyerangan terhadap sejumlah ustaz di Jawa Barat dinilai berpotensi menimbulkan perpecahan antarumat beragama. Sejumlah tokoh nasional dan tokoh lintas agama meminta pihak-pihak terkait mencegah kejadian-kejadian tersebut tak terulang demi kerukunan bangsa.

Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban Prof Din Syamsuddin menanggapi penyerangan Gereja Santa Lidwina Sleman pada Ahad (11/2) pagi merupakan tamparan besar. Apalagi, menurut dia, tokoh-tokoh pemuka agama baru saja menyelenggarakan musyarawah besar (mubes) untuk kerukunan bangsa di Grand Sahid Jaya, Jakarta, pada 8-10 Februari 2018.

Din menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam kepada keluarga korban, baik pemimpin jemaat maupun sebagian jemaat dari gereja tersebut. Ia yakin tindak kekerasan yang dilakukan terhadap umat Kristiani yang tengah beribadah tersebut tak lain adalah tindakan orang yang terganggu akal sehatnya.

Mantan ketua umum Muhammadiyah itu meminta kasus tersebut diusut tuntas. "Saya hanya ingin memesankan, peristiwa-peristiwa yang terjadi sekarang-sekarang ini, termasuk di Bandung, Jawa Barat, dua tokoh agama Islam, seorang kiai dan seorang aktivis ormas Islam bahkan menjadi korban katanya dilakukan oleh orang gila," kata Din.

Sebelumnya, Ahad (11/2) pagi WIB, Suliyono (22), warga Krajan, Kandangan, Pesanggrahan, Banyuwangi, Jawa Timur, menenteng parang ketika masuk ke dalam Gereja Santa Lidwina Sleman dan menyerang membabi buta orang-orang yang berada dalam gereja, tidak terkecuali Romo Edmund Prier SJ.

Setidaknya ada empat korban, yaitu dua jemaat, satu pendeta, dan seorang polisi. Ia juga menghancurkan sejumlah patung dan properti gereja.

Pihak kepolisian kemudian melumpuhkan pelaku. Sejauh ini kepolisian masih mendalami latar belakang penyerang dan motif yang mendorongnya melakukan serangan kemarin.

Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiatmoko menyatakan, pihaknya memercayakan pengungkapan kasus penyerangan Gereja Santa Lidwina kepada aparat penegak hukum. "Umat tetap tenang dan tidak perlu terpancing emosi. Persoalan ini sudah ditangani aparat yang berwajib dan diharapkan bisa segera tuntas," kata Rubiatmoko di Semarang.

Uskup menyatakan telah menjenguk para korban luka pada kejadian tersebut. Menurut dia, para korban sudah tertangani dengan baik dan kondisinya tidak mengkhawatirkan. "Mereka tidak dendam sama sekali. Mereka justru merasakan begitu Tuhan melindungi dalam kejadian tersebut," kata dia.

Melalui kejadian ini, dia melanjutkan, masyarakat harus bisa menjaga kehidupan bersama dan jangan sampai mudah diadu domba hingga curiga satu sama lain. Ia mengaku belum mengetahui secara pasti motif penyerangan tersebut. Namun, ia memercayakan pengungkapan peristiwa tersebut kepada aparat yang berwajib hingga tuntas.

Ketua MPR Zulkifli Hasan juga menyesalkan serangan terhadap pastor dan jemaat Gereja Bedog Santa Lidwina Sleman, Yogyakarta. Setelah penyerangan terhadap ustaz beberapa waktu lalu, kata dia, sekarang pastor dan gereja diserang. Gerakan yang ingin mengadu domba umat beragama ini harus segera dihentikan.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat mewaspadai upaya pihak yang ingin mengadu domba umat beragama. Ia juga meminta agar masyarakat tetap menahan diri.

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengatakan, penyerangan tersebut merupakan tantangan bagi umat beragama di Indonesia. "Pagi ini ada yang nyerang gereja. Jadi, semuanya, menurut saya, tantangan dari umat beragama untuk tetap waspada," ujarnya seusai acara puncak perayaan agenda PBB World Interfaith Harmony Week di JCC, Jakarta, Ahad.

Menurut HNW, seluruh umat beragama harus waspada karena ada pihak yang sengaja ingin menghancurkan kerukunan umat beragama di Indonesia. Apalagi, belum lama ini juga terjadi penyerangan terhadap ustaz yang disebut dilakukan oleh orang gila.

Ada pihak-pihak yang ingin mengacaubalaukan kehidupan beragama di Indonesia. Yang Islam diserang barangkali supaya curiga sama yang non-Islam. Yang non-Islam diserang biar curiga dengan yang Islam.

Penyerangan tempat ibadah umat Kristiani tersebut juga merupakan tantangan bagi para pimpinan umat beragama. Namun, menurut dia, polisi juga harus melakukan tindakan preventif agar masalah ini tidak terulang lagi.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyesalkan dan mengutuk penyerangan Gereja Santa Lidwina Sleman. "Tindakan tersebut sama sekali tidak mencerminkan ajaran nilai-nilai agama. Apa pun motifnya, tindakan tersebut patut dikutuk dan tidak bisa ditoleransi.

Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid meminta kepolisian dapat bertindak cepat mengusut motif penyerangan oleh seorang pria yang membawa pedang tersebut supaya tidak mengganggu kehidupan umat beragama di Indonesia. Zainut juga meminta masyarakat ikut menjaga situasi tetap kondusif dan tidak menyebarkan informasi yang provokatif.

Permintaan senada disampaikan tokoh Katolik Pastor Letkol Romo Yos Bintoro. "Saya mengimbau untuk tidak menyebarkan berita mengenai peristiwa Gereja Bedog pagi ini yang menimpa Romo Prier dan fasilitas gereja tidak disebarkan lewat media sosial," kata Bintoro saat dihubungi, Ahad.

Menurut Bintoro, setidaknya ada empat alasan kejadian itu tidak perlu disebarluaskan melalui media sosial. Pertama tentu karena kejadian itu dapat dipakai untuk gerakan-gerakan kontraproduktif pendesain serangan ini.

Kejadian itu juga dapat menimbulkan kepanikan umat yang tidak perlu bila disebarkan lewat media sosial. “Lalu, kejadian itu sebenarnya bisa kita lawan dengan mengatakan tidak takut kepada terorisme,” kata dia.

Ia juga menilai penyebarluasan kejadian dengan mudah dapat dipakai untuk kegiatan hate spin alias membangun kebencian selanjutnya. Untuk itu, ia mengimbau agar masyarakat tetap tenang, sabar, dan jangan pernah menggunakan media sosial untuk menunjukkan gerakan kontra kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab.

"Cukup statement ‘Kami mengutuk perbuatan ini di Republik Indonesia dan kami akan lawan gerakan melawan kebinekaan, melawan persatuan dan kesatuan bangsa’," ujar Bintoro. (ali mansur/amri amrullah/antara, Pengolah: fitriyan).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES