Monday, 13 Jumadil Akhir 1440 / 18 February 2019

Monday, 13 Jumadil Akhir 1440 / 18 February 2019

Ketua DPR: Hoaks Jadi Tantangan Media Utama

Jumat 09 Feb 2018 20:58 WIB

Rep: Debbie Sutrisno‎/ Red: Bayu Hermawan

Ketua DPR Bambang Soesatyo menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan LKBN ANTARA di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/1).

Ketua DPR Bambang Soesatyo menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan LKBN ANTARA di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/1).

Foto: Antara/Wahyu Putro A
Bamsoet menilai, tantangan bagi media mainstream semakin berat dan pelik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) menilai, tantangan bagi media utama (mainstream) semakin berat dan pelik, karena akumulasi dan arus informasi saat ini, ibarat debu yang bertebaran setiap harinya. Bambang mengatakan, media utama harus selalu dikelola dengan baik agar tetap bisa menjadi andalan publik untuk mendapatkan informasi yang benar dan akurat.

"Tantangannya jauh lebih berat dan pelik karena wartawan harus bekerja lebih cepat untuk menyajikan informasi yang benar dan akurat. Kebenaran dan akurasi menjadi harga mati, agar informasi yang disajikan wartawan tidak menjadi hoax (berita atau informasi bohong)," ujar melalui siaran pers, Jumat (9/2).

Bamsoet menuturkan, ketika publik resah dan bertanya mengapa hoaks bisa memadati jagad pemberitaan masa kini, keresahan dan pertanyaan itu sebenarnya dialamatkan juga kepada insan pers. Hoaks kian marak karena insan pers masa kini belum cukup sigap merespons setiap isu atau peristiwa di ruang publik secara menyeluruh. Ketidaksigapan wartawan akhirnya dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab menyebarkan hoaks dari setiap peristiwa.

Fenomena maraknya hoaks pada era sekarang harus ditanggapi oleh komunitas wartawan sebagai tantangan. Dengan meningkatkan kesigapan atau sensitivitas terhadap isu-isu yang beredar di ruang publik, peran wartawan diyakini bisa mereduksi hoaks.

Wartawan, lanjut Bamsoet, tentunya harus juga beradaptasi dengan tantangan zaman yang dihadapi bangsa dan masyarakatnya. Terlebih masyarakat di Indonesia saat ini menghadapi persoalan yang cukup pelik, salah satunya adalah terkotak-kotaknya masyarakat akibat perbedaan pilihan politik dan beda keyakinan.

Hal ini pun kemudian yang memunculkan kekhawatiran bersama tentang kemungkinan digunakannya isu bernuansa SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) dalam tahun politik 2018 dan 2019. "Itulah tantangan yang sedang dihadapi bangsa ini, selain tantangan di bidang ekonomi dan tantangan ekstenal. Komunitas wartawan Indonesia tidak boleh gagal paham terhadap tantangan yang sedang berkembang saat ini," ujarnya.

Dengan memahami tantangan bangsa, wartawan dan perusahaan media massa akan bisa merumuskan perannya dan kontribusinya sebagai salah satu pilar demokrasi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES