Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Peduli Lingkungan Artinya Harus Mau Repot

Jumat 09 February 2018 17:47 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Indira Rezkisari

GM Corporate Communication The Body Shop Indonesia Rika Anggraini, Co-Founder of Bye Bye Plastic Bags & Satu Pulau Satu Suara Melati Mijsen, Aktivis Lingkungan dan Founder SustainableSuzy.com Suzy Hutomo, dan Dosen Ilmu Filsafat Lingkungan FIB UI Saras Dewi menunjukkan poster apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi penggunaan plastik dalam konferensi pers Kampanye Satu Pulau Satu Suara Stop Pencemaran Sampah Plastik Di Laut di Jakarta, Jumat (9/2).

GM Corporate Communication The Body Shop Indonesia Rika Anggraini, Co-Founder of Bye Bye Plastic Bags & Satu Pulau Satu Suara Melati Mijsen, Aktivis Lingkungan dan Founder SustainableSuzy.com Suzy Hutomo, dan Dosen Ilmu Filsafat Lingkungan FIB UI Saras Dewi menunjukkan poster apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi penggunaan plastik dalam konferensi pers Kampanye Satu Pulau Satu Suara Stop Pencemaran Sampah Plastik Di Laut di Jakarta, Jumat (9/2).

Foto: Republika/Fuji Pratiwi
Gunakan plastik secara berulang untuk menekan penggunaan plastik sekali pakai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penggunaan plastik sering tak dipikirkan dampak lingkungannya. Sampah plastik ternyata memakan biaya lebih besar ketimbang saat produksinya. Kepedulian lingkungan dan pandangan jangka panjang butuh usaha termasuk mau repot mengubah gaya hidup.

Aktivis lingkungan dan pendiri SustainableSuzy.com, Suzy Hutomo menjelaskan, konsumerisme membuat plastik banyak digunakan. Plastik memang punya manfaatnya, tapi dampak negatifnya pun besar.

Sama seperti melawan konsumerisme, masyarakat bersama-sama juga harus menangani kenyamanan bila mau berbuat sesuatu untuk lingkungan. Gerakan kepedulian pencemaran dimotori anak muda Suzy yakini karena anak muda berpikir masa depan mereka.

''Kita harus mau repot. Bawa sedotan dan alat makan sendiri, repot memang. Tapi bisa mulai dengan, misalnya bilang pramusaji restoran saya tidak pakai sedotan,'' ungkap Suzy dalam konferensi pers Kampanye Satu Pulau Satu Suara Setop Pencemaran Sampah Plastik Di Laut di Jakarta, Jumat (9/2).

SustainableSuzy.com juga ia dirikan untuk ikut coba memberi solusi. Tujuan SustainableSuzy.com adalah mengurangi plastik sekali seperti sedotan, kantong plastik, alat makan plastik, dan lainnya.

Memakai sedotan dan alat makan yang bisa dipakai berulang bisa menekan banyak penggunaan plastik sekali pakai. SustainableSuzy.com coba menyediakan alternatif dengan sediakan sedotan bambu dan segera produk alat makan kayu.

Harga satu pak sedotan plastik memang murah, mungkin kurang dari Rp 1.000 per buah. Sedotan bambu harganya Rp 15 ribu per buah, tapi ini bisa dipakai berulang. ''Itu biaya sedotan plastik saja. Apa hitung biaya untuk pekerja yang memungut sampah sedotan itu? Belum dampak terhadap hewan di laut,'' ungkap Suzy.

Persoalan dunia bisnis di Indonesia memang masih berhitung biaya di sisi material, belum memikirkan biaya dampak lingkungannya. Suzy percaya, satu hari harus ada akuntansi hijau. Dampak pencemaran, termasuk plastik, memengaruhi semua orang.

Suzy mendukung regulasi plastik berbayar. Karena plastik memang tidak cuma-cuma, ada biaya pengelolaannya dan biaya lingkungannya luar biasa. Hanya, itu luput dari perhitungan biaya dampak lingkungan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Foto Udara Mina, Arafah dan Makkah

Selasa , 21 August 2018, 11:11 WIB