Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Mencegah Stunting Sedini Mungkin

Sabtu 27 Jan 2018 09:26 WIB

Rep: Retno Wulandhari/Desy Susilawati/Adysha Citra Ramadan/ Red: Agus Yulianto

Balita penderita gizi buruk

Balita penderita gizi buruk

Foto: M Syakir/Republika
Tanda yang muncul pertama stunting adalah berat badan turun.

REPUBLIKA.CO.ID,  Memperhatikan asupan makanan anak sejak dini sangat penting untuk menghindari berbagai permasalahan kesehatan akibat kekurangan gizi. Salah satu cara memastikan anak cukup asupan gizi dengan memperhatikan tinggi badan. Jika anak lebih pendek dari teman seusianya, bisa jadi anak memiliki masalah dengan pemenuhan gizinya.

Menurut ahli gizi dari Universitas Indonesia (UI) Dr Tirta Prawitasari MSc, SpGK, kondisi anak pendek yang juga dikenal dengan istilah stunting ini merupakan indikator yang menunjukkan proses kekurangan gizi dalam jangka waktu lama. Kurang gizi bila terjadi dalam waktu singkat misalnya dua minggu maka tanda yang muncul pertama adalah berat badan turun.

“Bila itu tidak segera diatasi stunting akan terjadi dan sebaliknya jika segera diatasi tidak akan terjadi,” kata Tirta saat dihubungi Republika.co.id, kemarin.

Tirta menjelaskan, pertumbuhan di bawah normal ini bisa diketahui dengan melihat kurva pertumbuhan sejak anak lahir. Sebagai indikator kekurangan gizi, stunting biasanya juga diikuti dengan gangguan pertumbuhan lainnya termasuk otak. Sehingga, kemampuan kognitif anak akan lemah. Lebih jauh, kondisi ini akan berpengaruh pada produktivitas anak ketika dewasa nanti.

Oleh karena itu, upaya pencegahan sebaiknya dilakukan sejak bayi masih dalam kandungan. Bahkan pemenuhan nutrisi yang maksimal sudah bisa dimulai sejak ibu mempersiapkan kehamilan. “Sebelum hamil, ibu harus punyastatus gizi yang cukup, sehingga ketika hamil ibu sudah dalam kondisi tubuh yang baik,” ujar Tirta.

Ketika sudah lahir, awali asupan anak dengan air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan. Setelah enam bulan, pastikan makanan pendamping ASI (MPASI) juga berkualitas dengan memperhatikan asupan gizi makro maupun mikro.

“Dari sisi variasi, MPASI harus memenuhi variasi bahan makanan berdasarkanstandar WHO yaitu terdiri dari staple food, protein nabati dan hewani, buah yangkaya vitamin A, produk susu dan turunannya, serta sayur dan buah-buahan lainnya,” papar Tirta Prawitasari.

Ahli Gizi dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Dr Rita Ramayulis, DCN, MKes menjelaskan stunting atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh kembang pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Penyebab stunting ini multifaktor. Sehingga perlu kolaborasi nutrisionis, dietisien dengan profesi medis, bidan, perawat, sanitarian dan tenaga kesehatan lainnya.

“Terkait perubahan pola makan berarti kita harus melakukan perubahan perilaku dan perubahan perilaku tidak mudah karena berangkat dari kebiasaan yang telah lama dilakukan. Oleh karena itu, perlu peningkatan pendidikan gizi individu dan keluarga,” ujarnya.

Pendidikan gizi ini, lanjut Rita, harus terus-menerus.  Tidak bisa tentatif dan tentu saja untuk keberhasilannya perlu role model dari tenaga kesehatan dan orang-orang yang dipercaya masyarakat. “Pembenahannya pendidikan gizi dan keluarga dengan role model serta jangan lupa kolaborasi tadi, jadi semua profesi dan lintas sektor harus merasa berkepentingan,” ujarnya.

Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan RI Doddy Izwardy mengatakan,  stunting di Indonesia, disebabkan oleh faktor-faktor multidimensi. Salah satu faktor yang menyebabkan stunting masih menjadi masalah di Indonesia adalah praktik pengasuhan anak yang tidak baik.

Praktik pengasuhan anak yang tidak baik ini meliputi kurangnya pengetahuan orang tua tentang kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, kesadaran dalam memberikan ASI eksklusif hingga pemberian MPASI yang kurang sesuai. "Sebanyak 60 persen dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI eksklusif, dua dari tiga anak usia 0-24 bulan tidak menerima MPASI," lanjut Doddy.

Faktor lain yang menyebabkan stunting masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia adalah terbatasnya layanan kesehatan, termasuk layanan ante natal care (ANC), post natal dan pembelajaran dini yang berkualitas.

Doddy mengatakan satu dari tiga anak usia 3-6 tahun tidak terdaftar di PAUD, dua dari tiga ibu hamil belum mengonsumsi suplemen zat besi yang memadai serta adanya penurunan tingkat kehadiran anak di Posyandu. Doddy juga menyoroti adanya anak-anak yang tidak mendapatkan akses memadai layanan imunisasi.

Tantangan pemerintah

Guru Besar Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Purwiyatno Haryadi MSc mengatakan,  stunting masih menjadi tantangan pemerintah di bidang kesehatan pada 2018. “Penyebab bayi mengalami stunting sangat kompleks mulai dari pemberian ASI yang tidak cukup, pemberian MPASI yang tidak cukup, pengasuhan anak yang kurang tepat, faktor kondisi rumah, faktor infeksi, keamanan pangan dan air yang tak terjaga serta mutu dan gizi pangan yang buruk,” ujar Prof Purwiyatno.

Menurutnya, sektor yang paling harus diintervensi pemerintah adalah kaitannya dengan keamanan pangan. "Dari sisi kesehatan bagaimana bisa mengatasi stunting melalui bidang keamanan pangan seperti kurangnya infrastruktur air bersih. Saya lihat perlu ada investasi keamanan pangan, seperti pedagang bakso atau jajanan anak-anak," ujar Prof Purwiyatno.

Ia melihat, produksi pangan yang tidak sesuai kaidah Cara Produksi Pangan yang Baik (CPBB) menjadi tantangan keamanan pangan di Indonesia. Masih banyak pedagang makanan yang abai dengan kaidah ini dan melakukan penggunan bahan tambahan pangan yang berlebihan. "Pemerintah harus memastikan perlindungan kesehatan publik dengan pembenahan standar keamanan pangan nasional," tambahnya.

Dikatakan dia, ketika aspek keamanan pangan diperhatikan, maka risiko anak-anak akan jatuh sakit dan mengalami gizi buruk bisa dicegah. Selain intervensi di bidang keamanan pangan, dia juga melihat pentingnya dukungan multisektor untuk merevitalisasi Posyandu. Seperti diketahui, Posyandu merupakan pusat kegiatan penyuluhan di masyarakat yang turut mempengaruhi cakupan perbaikan gizi di suatu daerah.

"Stunting perlu melibatkan banyak kementerian. Justru saya kira perlu ada tim khusus untuk menangani secara khusus darurat stunting ini. Seperti, merevitalisasi posyandu, dimonitor apakah penyuluhan untuk pemberian makanan pada bumil sudah tercapai. Bagaimana mengajarkan masyarakat pentingnya pemberian makanan bergizi pada anak," ujar Prof Purwiyatno. 

Spesialis anak konsultan dr Aman Bhakti Pulungan SpA(K) mengatakan, intervensi perlu diberikan kepada anak stunting. Aman mengatakan, ada tiga kategori pendek yang terdapat dalam data Riskesdas. Kategori yang memerlukan intervensi stunting adalah anak yang pendek dan kurus."Intervensi bisa berupa pemberian makan, makanan tambahan. Itu yang paling penting, dan zat bergizi," sambung Aman.

Aman mengatakan, intervensi tak cukup hanya dilakukan dengan pemenuhan kebutuhan gizi. Mengingat stunting merupakan masalah kesehatan yang dilatarbelakangi oleh beragam faktor, perbaikan di sektor-sektor lain juga perlu dilakukan.

"Setelah (pemenuhan gizi) itu, hal seperti lingkungan, sanitasi, dan lain-lain harus diperbaiki juga sama-sama. Imunisasi harus," lanjut Aman.

Seperti halnya intervensi dalam menghadapi stunting, upaya pencegahan stunting juga melibatkan banyak faktor. Pencegahan stunting tak bisa hanya dilakukan dengan memberi makanan saja kepada anak-anak maupun ibu hamil. Kondisi perumahan, program keluarga berencana hingga sanitasi lingkungan juga harus diperhatikan dengan baik demi mengurangi kejadian stunting di Indonesia.

"Makanya, stunting itu identik sebetulnya dengan kesejahteraan suatu negara," ujar Aman. n ed: irwan kelana

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA