Sunday, 29 Safar 1444 / 25 September 2022

2017, Ditemukan 220 Ribu Orang dengan HIV/AIDS

Rabu 06 Dec 2017 00:40 WIB

Rep: Maspril Aries/ Red: Dwi Murdaningsih

Peserta mengikuti jalan santai dalam rangka peringatan Hari Aids Sedunia yang diselenggarakan oleh Forum LSM Peduli AIDS di Kawasan Bundaran HI Jakarta, Ahad (3/12).

Peserta mengikuti jalan santai dalam rangka peringatan Hari Aids Sedunia yang diselenggarakan oleh Forum LSM Peduli AIDS di Kawasan Bundaran HI Jakarta, Ahad (3/12).

Foto: Antara/Wahyu Putro A

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Dirjen Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit HM Subuh menuturkan sampai dengan November 2017, ditemukan kurang lebih menemukan 220.000 orang dengan HIV/AIDS. Hal itu diungkapkannya pada puncak peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) 2017 berlangsung di Sumatra Selatan (Sumsel), Selasa (5/12).

"Kita terus meningkatkan pelayanan mendeteksi sejak dini. Kita imbau agar masyarakat mau dan mampu secara sukarela memeriksakan diri untuk mengetahui status HIV di dirinya, sehingga dapat segera diobati jika ternyata hasilnya positif," katanya.

Tahun 2017, Kemenkes  telah melakukan pemeriksaan sebanyak 7,5 juta orang, tahun 2018 ditargetkan meningkat dengan melakukan pemeriksaan kurang lebih 10 juta orang. Pada 2020 mendatang kurang lebih 20 juta populasi Indonesia yang berhasil di melakukan tes, ujar Subuh.

Dirjen HM Subuh menjelaskan, tujuan pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS adalah untuk mewujudkan target three zero pada 2030, yaitu tidak ada lagi penularan HIV, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Pada puncak peringatan HAS 2017, Direktorat Jendral P2P mencanangkan Fast Track 90-90-90 atau strategi akselerasi Temukan, Obati dan Pertahankan (TOP) untuk mencapai target tahun 2030.

Adapun Fast Track 90-90-90 terdiri dari 90 persen dari orang yang hidup dengan HIV (ODHA) mengetahui status HIV mereka melalui tes atau deteksi dini 90 persen dari ODHA yang mengetahui status HIV untuk memulai pengobatan Antiretroviral (ARV) dan 90 persen ODHA yang dalam pengobatan ARV telah berhasil menekan jumlah virusnya sehingga mengurangi kemungkinan penularan HIV serta tidak ada lagi stigma dan diskriminasi ODHA.

HM Subuh juga mengingatkan, stigma yang paling mengganggu program terdapat tiga macam, diantaranya stigma dari ODHA itu sendiri. Kalau ODHA-nya sendiri tidak mampu mengakui mengidap AIDS maka akan sulit, penularannya akan sangat cepat, Untuk menghilangkan stigma ini dengan berani memeriksakan diri dan mengakui merupakan langkah awal yang harus kita lakukan, kata HM Subuh.

 

Stigma kedua, kalau masyarakat mengucilkan dan menyampingkan mereka, penularan akan cepat dan terus terjadi. Ketiga stigma dari stakeholder. "Tiga stigma ini yang terus diperbaiki, digiatkan dengan baik," pesannya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA