Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Unicef: Interaksi Ayah dan Anak Masih Rendah

Ahad 05 Nov 2017 16:34 WIB

Rep: Kabul Astuti/ Red: Elba Damhuri

UNICEF (ilustrasi)

UNICEF (ilustrasi)

Foto: unicef.bg

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pentingnya peran ayah dalam pengasuhan tengah dikampanyekan oleh banyak lembaga internasional. Education Specialist Unicef Indonesia Nugroho Indera Warman mengatakan interaksi antara ayah dan anak masih rendah.

Studi yang dilakukan Unicef menunjukkan, anak usia 3 dan 4 tahun di 74 negara, atau sekitar 40 juta anak tidak mendapatkan kesempatan bermain dengan ayah mereka. Padahal aktivitas tersebut bisa dilakukan dengan cara bernyanyi bersama, membacakan cerita, berhitung, dan menggambar bersama.

"Peran ayah seharusnya sama dengan ibu, dia bisa bermain dengan anak, bahkan ketika anak masih dalam kandungan. Kemudian pada saat anak lahir, ayah mendukung ibu memberikan ASI," kata Nugroho Indera Warman di Gedung Kemendikbud Jakarta, Ahad (5/11).

Menurut Nugroho, ada tiga hal yang harus diperhatikan ayah. Yakni asupan gizi, stimulasi, dan kasih sayang. Hasil riset Unicef menemukan pentingnya dukungan ayah dalam pemberian gizi seimbang dan perlindungan yang baik pada anak. Hal itu membuat anak bisa tumbuh optimal, baik secara emosional maupun kognitif.

Dikatakan Nugroho, stimulasi ayah juga penting untuk mendukung anak supaya lebih berkembang. Salah satu caranya adalah dengan bermain. Karena bermain dapat merangsang otak anak, membangun rasa percaya diri, dan meningkatkan kecakapan hidup.

Beberapa kajian dari University of Maryland School of Medicine, University of Illinois, dan University of Oxford menyimpulkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan yang sama seperti ibu dapat meningkatkan keterampilan berbahasa pada anak yang lebih baik, mengurangi masalah perilaku pada anak, mengurangi kriminalitas, mengurangi masalah kesehatan mental dan meningkatkan prestasi anak di sekolah.

Hal yang menarik dari kajian ini bahwa peran ayah tidak hanya dari orang tua kandung saja, tapi juga bisa dari ayah tiri, ayah adopsi, pengasuh laki-laki di rumah, atau keluarga terdekat seperti kakek, paman, atau saudara laki-laki.

Secara global, Nugroho memaparkan, Unicef sudah melakukan kampanye ini sejak dua atau tiga tahun lalu. "Komunikasi antara ayah dengan anak sangat penting, hubungan mereka akan membuat prestasi akademis dan kesehatan mental anak baik. Figur ayah bukan hanya ayah kandung, tapi kakek dan ayah angkat juga," kata Nugroho.

Sejak 2006 silam, Hari Ayah telah dirayakan tiap 12 November. Meski, popularitasnya masih kurang dibanding Hari Ibu yang diperingati tiap 22 Desember. Hari Ayah juga belum ditetapkan secara resmi oleh pemerintah. Pada 2017 ini, puncak peringatan Hari Ayah rencananya akan digelar pada 18 November di Jakarta.

Nugroho menjelaskan, Hari Ayah dinilai penting karena beragam alasan. Mulai dari pentingnya figur ayah untuk karakter anak, dukungan ayah untuk tumbuh kembang anak, serta dampak positif peran ayah dalam pengasuhan. Dampak positif tersebut tampak baik secara sosial maupun akademis.

"Harapan kami lewat momen Hari Ayah, bahwa ayah bukan pembantu ibu dalam mengasuh anak tetapi menjadi sentral pengasuhan anak," tegas Nugroho.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA