Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Ini Sebab Senjata Impor Polri Tertahan di BSH Menurut Menhan

Selasa 03 Oct 2017 15:41 WIB

Rep: Kabul Astuti/ Red: Andri Saubani

Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu diwawancara wartawan di sela-sela acara sarasehan industri pertahanan di PT Pindad, Kota Bandung, Senin (18/9).

Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu diwawancara wartawan di sela-sela acara sarasehan industri pertahanan di PT Pindad, Kota Bandung, Senin (18/9).

Foto: Republika/Edi Yusuf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, semua pembelian senjata harus seizin Kementerian Pertahanan. Hal ini menyusul polemik pembelian senjata Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) oleh Polri yang hingga kini masih tertahan di area kargo Bandara Soekarno Hatta (BSH), Tangerang Banten.

"Saya minta semuanya yang pakai senjata harus izin dari Menteri Pertahanan," kata Ryamizard Ryacudu menegaskan, di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (3/10).

Ryamizard mengakui koordinasi terkait pengadaan dan pembelian 280 pucuk senjata pelontar granat serta 5.932 butir amunisi milik Polri itu belum berjalan dengan baik. Ia berharap ke depan koordinasi ini dapat diperbaiki dan seluruh pengadaan persenjataan bisa melalui satu pintu, yaitu Kemenhan.

Menteri Pertahanan RI juga menegaskan bahwa pengadaan senjata harus berpatokan pada undang-undang yang berlaku. Ryamizard menyatakan, semua proses pengadaan dan pembelian senjata dari lembaga manapun harus mendapatkan izin dari Kementerian Pertahanan. "Koordinasi ini yang belum jalan dengan benar. Mudah-mudahan ke depan jalan betul dan harus satu induk yaitu Kementerian Pertahanan," kata Ryamizard.

Terkait 280 pucuk senjata milik Polri yang tertahan di Bandara Soekarno Hatta, Ryamizard mengatakan sudah membicarakan masalah ini dengan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Menhan juga menegaskan, pembelian senjata SAGL tersebut sudah sesuai prosedur dan sepengetahuan dirinya.

Menurut Ryamizard, masalah tertahannya ratusan pucuk senjata itu lebih disebabkan karena proses serah terima yang belum terkoordinasi dengan baik. "Sudah sesuai prosedur, tinggal nanti di lapangan bagaimana serah terimanya segala macam gitu ya. Sudah ada suratnya," ujar Ryamizard.

Sebelumnya, 280 pucuk senjata pelontar granat Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) Kal 40 x 46 milimeter dilengkapi 5.932 butir peluru masuk ke Bandara Soekarno Hatta pada Jumat (29/9) malam. Hingga kini, ribuan senjata tersebut masih tertahan di Gudang UNEX, area kargo Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Senjata buatan perusahaan Bulgaria, Arsenal JSCo, itu tiba dengan pesawat Antonov AN-12TB milik Ukraine Air Alliance. Polri mengakui bahwa senjata-senjata milik Korps Brimob Polri yang diimpor oleh PT Mustika Duta Mas itu dibeli melalui mekanisme lelang sesuai dengan ketentuan pengadaan barang dan jasa.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA