Sabtu, 17 Zulqaidah 1440 / 20 Juli 2019

Sabtu, 17 Zulqaidah 1440 / 20 Juli 2019

Panglima TNI: 70 Persen Konflik karena Energi

Jumat 11 Agu 2017 14:49 WIB

Red: Ratna Puspita

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal TNI Gatot Nurmantyo

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal TNI Gatot Nurmantyo

Foto: ROL/Abdul Kodir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengungkapkan, sekitar 70 persen konflik di dunia disebabkan oleh perebutan energi dan minyak, bahkan konflik tersebut masih akan terus terjadi hingga hasil minyak dan energi sudah habis. "Saya pastikan 70 persen konflik karena perebutan energi minyak. Energi fosil tidak bisa terbaharui, tetapi tergantikan dan kritis," kata Panglima TNI saat memberikan Kuliah Umum di London School of Public Relations (LSPR), Jakarta, Jumat (11/8).

Ia mencontohkan konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah atau disebut "Arab Spring" lebih disebabkan perebutan energi dan minyak dari berbagai negara di bumi ini. Alasannya, kawasan Timur Tengah adalah wilayah penghasil minyak. “Kita lihat Irak, Libya, Saudi Arabia dan yang kini masih terjadi adalah Suriah. Wilayah-wilayah itu penghasil minyak terbesar di dunia. Apa yang terjadi lebih karena perebutan energi," ujar Gatot.

Panglima TNI menyebutkan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sudah melihat hal tersebut. Bahkan saat mengunjungi Irak, Trump pernah mengatakan ISIS tidak pernah ada jika AS bisa menguasai minyak. "Jangan heran jika Trump lalu memilih menteri luar negeri sebagai orang yang bekas bos di Exxon Mobil. Pintar dia," tutur Gatot.

Menurut dia, perebutan energi dan minyak tersebut tidak harus negara yang berkepentingan terjun langsung ke lapangan. Biasanya negara yang berkepentingan memakai warga setempat dengan mengadu-domba dan agitasi. 

Setelah energi minyak sudah mulai habis sekitar tahun 2056, maka akan terjadi krisis pangan dan krisis air. Negara-negara lain akan mengincar energi pangan, air yang dimiliki negara yang berada di dalam ekuator.

"Negara-negara diluar ekuator yang berjumlah sekitar 9,8 miliar orang akan mengincar negara-negara di dalam ekuator, seperti negara ASEAN, Kolombia, Meksiko dan lainnya untuk mengincar energi pangan dan air yang dimilikinya," papar Panglima TNI.

Menurut dia, negara-negara di luar ekuator akan melihat Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya. "Tadinya ke Arab Spring, sekarang banyak negara yang melirik wilayah Ekuator. Negara lain akan melirik Indonesia yang memiliki sumber daya alam melimpah, garis pantai terpanjang kedua di dunia, dan banyak pangannya. Ini sangat rawan bagi Indonesia," tuturnya.

Proklamator bangsa Indonesia, Bung Karno pernah menyatakan kekayaan alam Indonesia suatu saat nanti akan membuat iri negara-negara lain di dinia. "Presiden Joko Widodo juga pernah berkata, 'Kaya akan sumber daya alam justru dapat menjadi petaka buat Indonesia'," ujar Panglima TNI.

Karena itu, Panglima TNI mengingatkan bangsa Indonesia agar hati-hati. Jangan sampai negara ini pecah karena diadudomba dengan tujuan mengeruk minyak dan energi, seperti yang terjadi di Suriah. "Kita semua harus hati-hati. Kalau kita masih berselisih, mudah diadudomba maka Indonesia akan menjadi ladang konflik di masa mendatang. Benih-benih sudah ada, tetapi jangan sampai terjadi konflik antarsesama," tutup Gatot.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA