Wednesday, 19 Sya'ban 1440 / 24 April 2019

Wednesday, 19 Sya'ban 1440 / 24 April 2019

Menkes Minta RSJ Perhatikan Kesehatan Mental Masyarakatnya

Rabu 19 Jul 2017 20:42 WIB

Rep: RR LAENY/ Red: Angga Indrawan

Sejumlah pasien sakit jiwa. Ilustrasi

Sejumlah pasien sakit jiwa. Ilustrasi

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek meminta RS Jiwa (RSJ) memperhatikan kesehatan mental masyarakatnya. Hal itu diungkapkan menyusul fenomena banyaknya rumah sakit (RS) Jiwa yang hampir di tiap provinsi, namun persoalan tingkat masyarakat dengan masalah kejiwaan belum tertangani optimal.

Nila mengatakan, kini hampir setiap provinsi memiliki RS jiwa. Hanya delapan provinsi yang belum memilikinya karena wilayah ini merupakan provinsi baru.  Seiring dengan banyaknya RS Jiwa, populasi masyarakat Indonesia yang meningkat begitu tajamnya dan menimbulkan masalah yang bisa menimbulkan stres.

"Saya ingin mengusulkan, RSJ memperhatikan mental masyarakat kita sebelum sakit tentunya dengan mengetahui sejak dini dan mencoba memperbaikirnya," ujarnya usai melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) Pembangunan Gedung Rawat Jalan Terpadu rumah sakit (RS) Jiwa Dr Soeharto Heerdjan, di Jakarta, Rabu (19/7).

Ia menegaskan, penguatan layanan kesehatan ini sangat penting sekali. Ia menjelaskan, pelayanan kesehatan yang berjenjang mulai fasilitas kesehatan primer hingga fasilitas kesehatan tingkat lanjutan atau sekunder ini bisa melakukan deteksi preventif dan promotif. Ini diharapkan dapat membantu sedini mungkin mendekati keluarga termasuk mental sebagai indikator keluarga sehat.

Direktur Utama Rumah Sakit (RS) Jiwa Dr.Soeharto Heerdjan, Aris Tambing mengaku, pihaknya bukan hanya menangani masalah gangguan jiwa melainkan juga masalah orang perkotaan misalnya susah tidur, depresi, ingin bunuh diri, kecemasan.

"Anda bisa datang ke RS untuk konsultasi. Biasanya kalau depresi menjalani perawatan," ujarnya. Petugas medis RS yang dulu dikenal RS Jiwa Grogol ini juga bisa menjemput calon pasien yang tengah stres atau depresi untuk menjalani pengobatan.

"Keluarga bisa menelepon kami dan petugas kami akan menjemputnya," ujarnya.

Tak hanya menjemput, beberapa orang yang diduga mengalami gangguan jiwa yang dilaporkan Dinas Sosial DKI Jakarta akan dijemput oleh petugas medis RS yang dulunya dikenal dengan RS Jiwa Grogol ini. Tak hanya itu, pasien yang menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang sudah memenuhi ketentuan juga bisa mendapatkan perawatan tanpa mengkhawatirkan biaya. Kemudian mereka akan menjalani perawatan intensif. Aris menyebut satu dokter yang bertugas di RS Jiwa Dr Soeharto Heerdjan bisa menangani 20 orang pasien.

"Semakin banyak dokternya semakin bagus," ujarnya. Saat ini ia menyebut RS yang terletak di Grogol, Jakarta Barat ini memiliki 33 dokter dan 16 psikiater untuk menangani 300 pasien rawat inap. Sebanyak 60 persen kapasitas pasien rawat inap diakuinya telah terisi. Namun, RS ini belum puas. Terbaru, RS Jiwa Dr Soeharto Heerdjam ini melakukan pembangunan Gedung Rawat Jalan Terpadu. Salah satu pelayanan yang akan diunggulkan adalah pusat autisme, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), dan dan emosional Anak dan Remaja.

"Penetapan pusat tersebut sebagai unggulan didasarkan kepada peningkatan angka kunjungan di Instalasi Anak dan Remaja RS Jiwa Dr Soeharto Heerdjan sejak 2010 dan menjadi gambaran general dari persoalan anak dan remaja perkotaan," katanya.

Sumber : Center
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA