Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Wapres Sebut Serangan Virus Ransomware Tindak Kejahatan

Senin 15 May 2017 13:51 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Ransomware

Ransomware

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --- Serangan siber berjenis ransomware sedang merajalela di beberapa negara termasuk Indonesia. Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla mengatakan, hal ini merupakan bentuk kejahatan.

"Saya tadi bicara dengan Rudiantara (Menteri Komunikasi dan Informatika) apa yang terjadi, ya seperti yang anda ketahui juga bahwa ini ada yang melepaskan virus begitu jadi hasilnya random. Itulah yang kira-kira terjadi tapi ini kejahatan tentu," ujar Jusuf Kalla di Jakarta, Senin (15/5).

Serangan siber ini bersifat masif dan menyerang sumber daya sangat penting, serta dikategorikan teroris siber. Serangan siber yang menyerang Indonesia berjenis ransomware yang merupakan jenis malicous software atau malware yang menyerang komputer korban dengan cara mengunci komputer, atau melakukan enkripsi semua data yang ada sehingga tidak bisa diakses kembali. Tahun ini ransomware baru telah muncul dan diperkirakan bisa memakan banyak korban. Ransomware baru itu disebut WannaCry yang mengincar komputer berbasis Windows yang memiliki kelemahan terkait fungsi server message block yang dijalankan di komputer tersebut.

"Terutama yang pakai Windows ini berbahaya, jadi memang prinsip internet itu sampah masuk, sampah keluar. Ada yang memasukkan sampah ke dalam jadi virus semuanya," kata Jusuf Kalla.

Untuk mengantisipasi serangan siber ini, Jusuf Kalla mengaku telah diajari oleh Rudiantara agar mencabut kabel LAN yang terpasang di komputer dan melakukan salinan data.

"Tadi saya diajari Rudi macam-macam, cabut kabelnya, baru pasang back upnya dan lain-lain," kata Jusuf Kalla.

Menurut Jusuf Kalla, serangan siber ini tidak berpengaruh untuk dirinya. Dia mengaku gagap teknologi dan tidak mengerti dengan permasalahan tersebut. Virus ini telah menyerang banyak negara, Jusuf Kalla menilai untuk mengantisipasi hal tersebut tidak bisa dilakukan kerja sama antarnegara karena Windows yang diserang. Sehingga semua yang menggunakan Windows model lama bisa terkena virus tersebut.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA