Wednesday, 10 Rajab 1444 / 01 February 2023

Bertemu TKW Telantar, Dedi Mulyadi Batalkan Kunjungan Ke Mesir

Sabtu 29 Apr 2017 14:49 WIB

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Hazliansyah

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi

Foto: Republika/Ita Nina Winarsih

REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA -- Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, memilih membatalkan perjalannya ke Kairo, Mesir setelah kepala daerah dua periode ini bertemu dengan dua calon TKI asal Kecamatan Plered (Purwakarta) dan Karawang, sedang terlunta-lunta di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia. Kedua calon TKI itu akhirnya pulang bersama Bupati Dedi ke Indonesia, Sabtu (29/4).

Informasi yang diperoleh Republika.co.id, kedua calon TKI itu terlunta-lunta di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia selama empat hari. Pada Jumat (28/4) kemarin, keduanya bertemu langsung dengan Bupati Dedi yang sedang transit menuju Kairo.

"Kedua calon TKI ini ilegal. Mereka berangkat melalui jalur tak resmi," ujar Dedi.

Menurut Dedi, awalnya dia hendak bertolak ke Kairo. Sebab, pelajar dan mahasiswa yang sedang mengikuti pendidikan di negeri piramida itu mengundangnya dalam seminar bertemakan optimalisasi mahasiswa dalam membangun bangsa serta dialog budaya.

Namun, di tengah perjalan, dirinya bertemu dengan kedua perempuan calon TKI itu. Keduanya, yaitu Rati (42) asal Karawang dan Iah Syarian (26) asal Plered, Purwakarta. Kedua perempuan itu meminta bantuan Dedi untuk bisa pulang ke Indonesia.

Parahnya lagi, paspor kedua calon TKI itu ditahan pihak imigrasi Malaysia. Sebab, tak tercantum visa kerja. Untuk menebus paspor tersebut, harus ada uang sebesar 10 ribu Ringgit. Keduanya, tak memiliki uang sebanyak itu.

"Saat bertemu, keduanya berbicara pakai Bahasa Sunda. Dan langsung mengenali saya," ujarnya.

Melihat kedua calon TKI ini, Dedi lalu menghubungi pihak KBRI setempat. Bantuan pihak KBRI membuahkan hasil. Kedua calon pahlawan devisa negara itu bisa pulang ke Indonesia bersama Dedi Mulyadi.

Sementara itu, Iah Syariah, mengakui, sejak awal dirinya telah memilih jalan salah. Sebab, memaksa pergi jadi TKI melalui PJTKI ilegal yang berada di Jakarta. Serta, bekerja jadi TKI tak mengantongi izin dari suami.

"Dari Purwakarta, saya naik kapal feri selama tiga hari menuju Batam. Lalu dari Batam, baru ke Bandara Kuala Lumpur," ujarnya.

Dari Kuala Lumpur, keduanya sudah terbang menuju Oman. Tetapi, di Oman keduanya kembali dibalikan ke Malaysia, sebab dokumennya tidak lengkap. Sekembalinya ke Malaysia, agen yang mengantarkannya justru kabur dan meninggalkan keduanya.

"Tujuan saya kerja, Jeddah, Arab Saudi. Tapi, belum sempat kami kerja, malah terlunta-lunta di Malaysia," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA