Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Nasir Tamara: Menulis Merupakan Pekerjaan Berat

Rabu 22 Mar 2017 18:53 WIB

Rep: Yulianingsih/ Red: Fernan Rahadi

Nasir Tamara saat menjadi pembicara dalam workshop tentang penulisan seni dan media di Ndalem Natan Kotagede, Yogyakarta, Rabu (22/3).

Nasir Tamara saat menjadi pembicara dalam workshop tentang penulisan seni dan media di Ndalem Natan Kotagede, Yogyakarta, Rabu (22/3).

Foto: Republika/Yulianingsih

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Penulis Nasir Tamara mengatakan bahwa menulis merupakan sebuah pekerjaan yang berat. "Menulis itu membutuhkan kerja keras, karena kita harus membuat target-target untuk menulis, sehari berapa karakter itu harus ditarget," ujarnya saat menjadi pembicara dalam workshop tentang penulisan seni dan media di Ndalem Natan Kotagede, Yogyakarta, Rabu (22/3).

Workshop tersebut menghadirkan beberapa penulis seni di Indonesia antara lain kurator seni Mieke Susanto dan guru besar Filsafat UI Toeti Heraty Noerhadi. Hadir juga pelukis ternama Yogyakarta Kartika Affandi.

Workshop diikuti puluhan mahasiswa di Yogyakarta dan para penggiat seni di Yogyakarta. Workshop tersebut merupakan rangkaian kegiatan dalam peluncuran majalah MITRA Jurnal Budaya dan Filsafat. Majalah tersebut diterbitkan oleh Cemara F Galeri-Museum. Majalah triwulan ini diprakarsai oleh Toeti Heraty Noerhadi.

Menurut Nasir, tanpa kerja keras maka tulisan tidak akan selesai. Nasir bercerita tentang bukunya yang berjudul Revolusi Iran. Karena buku tersebut Nasir sendiri berhasil membeli rumah pertamanya melalui royalti buku itu. Karenanya, Nasir mengimbau agar mahasiswa tak lelah menulis.  

Mieke Susanto mengatakan, menulis itu sama dengan berkarya dan menciptakan sesuatu mitos baru. Menulis adalah kegiatan mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran atas semua pengalaman yang diperoleh. "Tulisan seni itu menjembatani bagaimana pengalaman terbuka atas tontonan kita. Tulisan itu membuka pengalaman orang lain atas sebuah seni, jadi bukan hitam putih," katanya. Ia menambahkan, diksi atau pilihan kata akan menentukan kelenturan sebuah tulisan.

Toeti Heraty Noerhadi dalam kesempatan itu mengatakan, kumpulan sajak yang diterbitkan menjadi buku pertama miliknya merupakan kumpulan catatan-catatan kecil yang dia simpan. "Kumpulan catatan kecil ini kemudian saya berikan ke HB Yasin, kemudian ada yang menerbitkan menjadi kumpulan sajak," ujarnya.

Dari situlah, kata dia, dirinya kemudian dikenal sebagai salah satu penyair di Indonesia. Menurut Toeti, penyair itu harus terus menulis. Jika tidak maka penyair tersebut akan dikatakan sebagai mantan penyair.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA