Friday, 19 Zulqaidah 1441 / 10 July 2020

Friday, 19 Zulqaidah 1441 / 10 July 2020

Air Sumur di Pidie Jaya Keruh dan Berlumpur Setelah Gempa

Ahad 11 Dec 2016 17:11 WIB

Red: Nur Aini

Relawan membantu proses perataan bangunan yang ambruk pascagempa di Pidie Jaya, NAD, Sabtu (10/12).

Relawan membantu proses perataan bangunan yang ambruk pascagempa di Pidie Jaya, NAD, Sabtu (10/12).

Foto: Republika/ Wihdan Hidayat

REPUBLIKA.CO.ID,PIDIE JAYA -- Gempa berkekuatan 6,4 skala richter yang mengguncang Kabupaten Pidie Jaya, Rabu (7/12), mengakibatkan banyak sumur warga airnya berubah menjadi keruh dan berlumpur, sehingga tidak layak konsumsi.

Sekretaris Desa Masjid Tuha, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Fauzi M Daud mengatakan, setelah terjadinya gempa beberapa waktu lalu, air sumur warga di desanya berubah menjadi keruh dan berlumpur. Ia menyebutkan, sebelumnya tidak terlihat, bahkan kondisi air sumur bagus dan layak untuk dimanfaatkan ataupun dikonsumsi. Akan tetapi sekarang telah berubah dan tidak bisa dimanfaatkan lagi.

Ia sangat berharap dari pemerintah dan pihak-pihak lain yang peduli, untuk dapat memerhatikan permasalahan tersebut. Sehingga apabila sudah saatnya warga kembali ke rumah dari tempat pengungsian, kebutuhan air bersih tidak menjadi persoalan bagi mereka. "Kami mengharapkan, agar persoalan ini dapat menjadi perhatian bagi pemerintah terhadap kebutuhan air bersih, karena sumur warga umumnya sudah tidak layak untuk dimanfaatkan karena sudah keruh dan berlumpur pascagempa besar kemarin," ungkap dia.

Menurutnya, warga desanya mengungsi karena tidak memungkinkan tinggal di rumah. Apalagi kondisi rumah banyak yang sudah retak dan tidak layak untuk dihuni, sehingga memilih mengungsi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Sementara itu, salah seorang pengungsi di lokasi Masjid Tuha, Fatimah mengatakan, dirinya menetap dan tinggal di pengungsian, sedangkan anggota keluarganya yang lain, pulang sebentar untuk menjenguk rumah.
Sebelumnya, koordinator pengungsi di lokasi pengungsian Dayah Kleng, pusat pasar Meureudu, Darwis Daud, mengatakan, umumnya warga lebih memilih tinggal di pengungsian daripada tinggal di rumah. Alasannya, warga lebih merasa aman dan nyaman tinggal di pengungsian untuk menghindari bahaya sewaktu-waktu adanya gempa susulan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA