Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Wabah Antraks Merambah Wilayah Baru di 2016

Senin 23 Mei 2016 12:23 WIB

Rep: Sonia Fitri/ Red: Nidia Zuraya

Bakteri antraks dilihat dari mikroskop.

Bakteri antraks dilihat dari mikroskop.

Foto: daily mail

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) bekerja sama dengan dinas peternakan di daerah mewaspadai penyebaran Wabah Antraks di musim hujan. Kasus terbaru antraks terdeteksi di Kabupaten Gorontalo pada Maret-April 2016.

"Dilaporkan ada 30 ekor sapi mati tetapi bangkainya tidak ditemukan karena sudah dijual ke pasar," kata Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan (P3H) Direktorat Kesehatan Hewan Kementan Mardiatmi dalam kegiatan Focus Group Discussion Kajian Kebijakan Nasional Pengendalian dan Penanggulangan Antraks pada Ternak di Indonesia, Senin (23/5).

Petugas, lanjut dia, segera menelusuri keberadaan daging antraks di pasar-pasar tradisional. Sehingga, ditemukanlah limpa sapi yang terjangkit lalu segera diamankan. Pencegahan perluasan antraks kemudian dilakukan dengan mengidentifikasi masyarakat sekitar agar penularan wabah ke manusia bisa tercegah atau tertangani.

Ia menguraikan, wabah antraks telah muncul sejak beberapa tahun terakhir. Pada 2013 kasus antraks terjadi di Kabupaten Takalar, Maros Provinsi Sulawesi Selatan. Kemudian pada 2014 ditemukan di Kabupaten Maros, Desa Kupa Kecamatan Mallusetasi Kabupaten Barru Kecamatan Libureng; Kabupaten Bone Sulawesi Selatan; dan Kabupaten Blitar Jawa Timur. 

Pada 2016 wabah antraks muncul pertama kali di Desa Malingping Kecamatan Patampanua Pinrang Sulawesi Selatan. "Ada 42 ekor sapi mati dan hanya sembilan ekor yang bisa kita periksa karena yang lainnya sudah disembelih dan dijual ke pasar," tuturnya. Penyebaran wabah lantas meluas hingga ke Polewali Mandar Sulawesi Barat. 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES