Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Fidiansjah: Minta Maaf Bukan Berarti LGBT Benar

Rabu 23 Mar 2016 15:22 WIB

Rep: Sri Handayani/ Red: Teguh Firmansyah

Pengguna jalan melintas di dekat spanduk berisi penolakan kepada kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Yogyakarta, Rabu (24/2)

Pengguna jalan melintas di dekat spanduk berisi penolakan kepada kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Yogyakarta, Rabu (24/2)

Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meski telah menyampaikan pernyataan maaf terkait pernyaaannya tentang LGBT dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) 16 Februari 2016, dr Fidiansjah menyatakan tetap teguh dengan pendapatnya. 

Menurut dia, pendapat itu merupakan kebenaran komunal yang juga diakui oleh sejumlah pihak yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Beradab. Fidiansjah tetap menegaskan LGBT adalah penyakit kejiwaan.

"Permintaan maaf yang saya sampaikan sesuai dengan yang mereka (LBH Jakarta) tuntut. Meminta maaf bukan berarti mereka benar)," ujar dr Fidiansjah kepada wartawan, dalam konferensi pers, Rabu (23/3) di Sekretariat Gerakan Indonesia Beradab, Jl. Haji Saabun, Jati Padang, Jakarta Selatan.

Sebelumnya LBH Jakarta mensomasi Fidiansjah karena dianggap mendiskriminasikan LGBT dan tidak mengungkapkan kebenaran dalam Pedoman Penggolongan Penyakit dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III.

Ia meminta agar keluarga bahu-membahu membantu para LGBT. Apabila ada anggota keluarga yang menyatakan sebagai LGBT, diminta untuk tidak melakukan diskriminasi.

Baca juga, LBH Jakarta Somasi Fidiansjah, Dadang Hawari: Itu Berlebihan.

Dalam poin keenam, ia ingin menunjukkan menunjukkan keteguhan pendapatnya untuk menolak LGBT dan menyatakan sebagai penyakit. Ia menolak membicarakan lebih lanjut poin tersebut dalam konferensi pers dan memilih membahasnya dalam forum ilmiah.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengklarifikasi tudingan telah menghilangkan dua kalimat dalam Pedoman Penggolongan Penyakit dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III. Menurut Fidi, apa yang ia sampaikan dalam ILC sesuai dengan apa yang ditanyakan oleh pembawa acara. Ia mengambil bagian yang sesuai dengan kebutuhan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Menurut Fidi, ini juga terkait dengan durasi waktu yang singkat, sehingga tidak semua detail PPDGJ III dapat dijelaskan dalam acara tersebut. Pasalnya, pembahasan tentang poin-poin dalam PPDGJ III itu lebih tepat untuk dibicarakan dalam forum ilmiah.  "Kalau soal kesehatan jiwa, ngomongnya sama sesama spesialis kesehatan jiwa," ujar dia.  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA