Selasa, 15 Syawwal 1440 / 18 Juni 2019

Selasa, 15 Syawwal 1440 / 18 Juni 2019

Sambut Tahun Baru, MUI Minta Umat Islam Jangan Hura-Hura

Selasa 29 Des 2015 19:23 WIB

Red: M Akbar

Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin memberikan sambutan saat pembukaan Rakernas MUI 2015 di Jakarta, Selasa (10/11) malam.

Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin memberikan sambutan saat pembukaan Rakernas MUI 2015 di Jakarta, Selasa (10/11) malam.

Foto: Republika/ Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin mengajak umat Islam agar merayakan pergantian tahun baru menuju 2016 secara sederhana atau jauh dari unsur hura-hura berlebihan.

"Mengajak masyarakat dan bangsa untuk meningkatkan rasa syukur menyongsong 2016 dengan semangat optimisme tinggi. MUI mengimbau pergantian tahun disikapi dengan kesederhanaan, tidak berlebihan, hedonisme, tamak, rakus dan perilaku menyimpang lainnya," kata Ma'ruf di kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (29/12).

Soal tahun 2016, Ma'ruf mendorong pemerintah agar terus dapat mewujudkan kerukunan umat beragama. Sementara untuk kasus perselisihan agama seperti di Tolikara dan Singkil, Ma'ruf meminta agar penegak hukum berlaku secara adil terhadap pelaku kerusuhan. Dengan kata lain, tidak ada perlakuan membedakan dalam menangani kasus serupa.

Penegak hukum, kata dia, harus secara konsisten terlibat dalam menjaga kerukunan umat beragama dan mencegah penistaan agama lewat simbol-simbol seperti kasus sandal bertuliskan Allah, terompet berbahan sampul Alquran dan celana jeans bergambar perempuan telanjang.

"Mereka harus tegas terhadap penyalahgunaan simbol-simbol agama. Jangan dibiarkan karena bisa ada motif tertentu, misalnya menebar keresahan di tengah masyarakat," kata dia.

Sementara dari unsur masyarakat, Ma'ruf meminta agar tidak mudah terpancing menuju anarkis oleh unsur-unsur provokatif yang berbau agama. Penindakan terhadap penistaan agama agar diserahkan kepada penegak hukum. Di sisi lain, dia meminta unsur berwajib agar bertindak tegas sehingga tidak ada gejolak di tengah masyarakat.

"Bagi umat Islam agar mengedepankan soal 'Islam wasathiyah' (moderat) yang tidak mengedepankan kekerasan dalam bertindak menyikapi persoalan," katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA