Sabtu, 20 Ramadhan 1440 / 25 Mei 2019

Sabtu, 20 Ramadhan 1440 / 25 Mei 2019

Selamat Tinggal Industri Musik Indonesia?

Jumat 06 Nov 2015 16:52 WIB

Rep: muhammad subarkah/ Red: Muhammad Subarkah

Grup band Andra & The Backbone tampil pada konser musik

Grup band Andra & The Backbone tampil pada konser musik

Foto: Antara Foto/Irsan Mulyadi

REPUBLIKA.CO.ID, Merebaknya kabar penutupan gerai CD terkemuka Ibu Kota, Disc Tarra dan Duta Suara jelas menyentak kesadaran. Bahkan, banyak yang bilang bahwa industri musik Indonesia kini bersiap masuk ke dalam waktu senja kala, alias menjelang nyungsep ke dalam lubang pemakaman masal.

 ‘’Saya masih tetap bikin lagu. Tapi enggan dilemparkan ke pasaran, karena album belum launching, bajakannya sudah ke luar di pasaran duluan,’’ kata raja dangdut Rhoma Irama, dalam sebuah perbincangan beberapa waktu silam.

'’Pembajakan sudah sangat luar biasa. Apalagi, semua orang bisa download dengan tanpa bayar,’’ katanya lagi.

Bagi dunia musik industri Indonesia, kabar penutupan dua gerai CD ini makin menambah panjang daftar persoalan. Ke depan, tak ada lagi yang mengedarkan keping CD yang ‘resmi’ karena yang ada di pasaran hanya musik daur ulang dengan cara bajakan. Semuanya pindah ke penjualan musik digital. Dan ini dipastikan yang semakin untung adalah  gerai penjualan musik di dunia maya, seperti iTunes dan sejenisnya.

Di masa lalu, industri dunia musik Indonesia pernah mengalami situasi yang seperti ini, yakni ketika terjadi pergantian sajian musik dari media  atau perangkat piringan hitam ke pita kaset. Untungnya, pelaku indusstri dan masyarakat Indonesia bisa melewati  masa itu dengan mulus. Bahkan, melahirkan sebuah era di mana musik Indonesia benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Dan, salah satu bintang yang paling terang dan menjadi pelopor industri musik di atas pita rekaman di era itu adalah Koes Plus yang pada 1974 sempat mampu membuat 24 album dalam setahun. Selain itu, kemudian muncul ‘macan musik’ lainnya, seperti Ebiet G Ade yang album serial Camelia-nya mampu terjual rata-rata hingga lebih dua juta kopi.

 Kegemilangan era ini kemudian terbawa hingga era musik 1990-an. Meski bentuk sajian musiknya sudah beralih ke lempengan cakram (CD) tapi angka penjualannya tetap menggiurkan. Grup Dewa, Padi, dan Indah Dewi Pertiwi, misalnya, mampu menjual karyanya hingga jutaan kopi.

Namun, ketika situasi perpindahan sajian kian masuk ke era musik analog, maka bangunan indisutri musik Indonesia perlahan-lahan runtuh. Situasi ini makin terasa setelah hadirnya era pengunduhan musik secara gratis di internet. Bahkan, belakangan makin terpukul lagi setelah hadirnya media Youtube.

Akhirnya, akankah ini merupakan senjakala bagi industri musik Indonesia...? Waspadalah.... Waspadalah!

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA