Saturday, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Saturday, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Yuk Intip Kehidupan Hewan Liar di Lokasi Bekas Bocornya Reaktor Nuklir

Kamis 08 Oct 2015 10:43 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Dwi Murdaningsih

bekas reaktor Chernobyl

bekas reaktor Chernobyl

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bencana bocornya reaktor nuklir Chernobyl pada 1986 pernah menjadi salah satu kecelakaan nuklir terburuk. Bencana itu bukan hanya sebah bencana lingkungan bagi manusia. Satwa liar setempat juga terpukul dengan awan debu radioaktif yang berasal dari ledakan. Sejumlah besar spesies hewan di daerah sekitar mati ataupun terluka akibat bencana itu.

Tapi sekarang sekitar tiga dekade kemudian, populasi hewan dari Zona Pengecualian Chernobyl positif berkembang meskipun radiasi masih meresapi lanskap. Fakta bahwa hampir semua penduduk manusia di daerah itu dibersihkan setelah bencana menciptakan habitat satwa liar bebas dari dampak negatif.

Menurut tim peneliti internasional, kebangkitan dalam jumlah rusa besar atau elk, kijang, babi hutan dan serigala di zona seluas 4,2 kilometer persegi itu menunjukkan bahwa bencana nuklir dalam beberapa hal memiliki dampak terbalik untuk populasi hewan di daerah itu.

Jim Smith dari Universitas Portsmouth di Inggris mengatakan, sangat mungkin bahwa angka satwa liar di Chernobyl jauh lebih tinggi daripada jumlah mereka sebelum bencana. "Ini tidak berarti radiasi baik untuk satwa liar, hanya saja efek dari tempat tinggal manusia termasuk berburu, bertani dan kehutanan yang jauh lebih buruk," ujar dia seperti diberitakan ScienceAlert.

Perlu digarisbawahi bahwa temuan para peneliti tidak menilai dampak radiasi pada hewan. Mereka hanya mengukur jumlah empiris populasi yang bersumber dari data sensus dan survei helikopter dari zona itu.

Metode-metode menemukan bahwa populasi rusa besar, rusa roe, rusa merah dan babi hutan di daerah yang terkena dampak radiasi adalah sebanding dengan tingkat hewan di cagar alam yang tidak tercemar di wilayah tersebut. Populasi serigala yang sangat kuat menjadi tujuh kali lebih tinggi di zona pengecualian.

Sementara itu, para peneliti mengakui bahwa peelitian sebelumnya tentang efek Chernobyl yang menunjukkan kerugian signifikan pada hewan dan jumlah mereka tidaklah tepat. Para peneliti mengaku tidak menemukan bukti dari dampak jangka panjag terhadap tingkat populasi.

Studi ini tidak hanya menunjukkan kepada kita bagaimana hewan dapat bangkit kembali dalam menghadapi wabah radiasi akibat peristiwa seperti Chernobyl dan Fukushima. Ini juga menjadi pengingat penting dari efek buruk tempat tinggal manusia bersama hewan dalam satu lingkungan. Menurut riset ini, bencana Chernobyl sudah pasti berbahaya. Tapi, menurut riset ini dalam jangka panjang, tampaknya kehadiran manusia bahkan lebih mengancam populasi hewan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES