Rabu, 27 Jumadil Awwal 1441 / 22 Januari 2020

Rabu, 27 Jumadil Awwal 1441 / 22 Januari 2020

Gempa 7,2 SR Guncang Mamberamo Raya Papua

Selasa 28 Jul 2015 06:24 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Satya Festiani

Gempa bumi, ilustrasi

Gempa bumi, ilustrasi

Foto: Darmawan/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gempa kuat dengan berskala 7,2 skala Richter (SR) mengguncang Mamberamo Raya, Papua, Selasa (28/7).

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan telah terjadi gempa 7,2 SR, pada Selasa (28/7) pukul 04:41:23 WIT.

“Pusat gempa di 75 kilometer (km) Tenggara Mamberamo Raya, Papua. 81 km Timur Laut Tolikara, Papua dan 99 km Barat Laut Mamberamo Tengah, Papua,” ujarnya, Selasa.

Pusat gempa di darat pada kedalaman 49 km. Dia menambahkan, posko BNPB telah mengkonfirmasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua dan dilaporkan gempa dirasakan sangat kuat selama empat detik. “Namun, gempa tidak berpotensi tsunami,” katanya.

Gempa ini membuat masyarakat panik dan berhamburan ke luar rumah. Hingga saat ini, belum ada laporan kerusakan bangunan dan korban jiwa. “Wilayah yang sulit dijangkau dan keterbatasan aksesibilitas menyebabkan kesulitan pemantauan,” ujarnya.

Diakuinya BPBD Provinsi Papua masih berkoordinasi dengan BPBD dan aparat setempat. Pendataan juga masih dilakukan. Berdasarkan gempa yang dirasakan tercatat di Jayapura II-III MMI, Sarmi IV MMI, Wamena III MMI, Sentani II-III, dan Biak II-III. Artinya gempa dirasakan lemah di daerah-daerah di luar pusat gempa.

Wilayah di utara daratan di Provinsi Papua seperti di Kabupaten Yapen, Waropen, Jayapura, dan Mamberamo rawan gempa. Di wilayah ini ada sesar aktif yaitu Sesar Yapen bergerak ke barat-timur rata-rata 2-5 cm per tahun, dan Sesar Mamberamo. Ia menjelaskan, berdasarkan sejarah gempa di daerah ini pernan terjadi gempa besar seperi gempa 7,9 (1926), 8,1 SR (1971).

“Daerah Indonesia bagian Timur rawan gempa dan tsunami. Namun, terbatasnya riset mengenai gempa dan tsunami, juga infrastruktur kebencanaan di daerah ini menyebabkan belum dapat ditemukan dan kenali karakteristik gempa dan tsunami,” katanya. Begitu juga dengan mitigasi bencana juga masih terbatas dibandingkan dengan daerah di Indonesia bagian Barat.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA