Saturday, 2 Safar 1442 / 19 September 2020

Saturday, 2 Safar 1442 / 19 September 2020

JK: Minimal, Satu Orang Punya Satu Kodi Batik

Rabu 24 Jun 2015 13:09 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Esthi Maharani

Suasana pembatik rumahan di Desa Batik Trusmi, Cirebon, Jawa Barat. (Republika/Raisan Al Farisi)

Suasana pembatik rumahan di Desa Batik Trusmi, Cirebon, Jawa Barat. (Republika/Raisan Al Farisi)

Foto: Republika/Raisan Al Farisi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden, Jusuf Kalla meminta para produsen dan pengrajin batik di Indonesia meningkatkan produktivitasnya. Alasannya, batik semakin mendunia dan dapat dikenakan di semua musim.

"Ini pakaian pagi-sore-malam sehingga produksi harus besar-besaran. Ini tak tahu benar atau tidak, produksi bisa 5 triliun tahun ini. Mungkin harus lebih tinggi lagi. Mininum orang punya batik 1 kodi," kata JK saat memberikan sambutan dalam acara Gelar Batik Nusantara di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (24/6).

Dahulu, lanjut Kalla, batik hanya identik dengan masyarakat Jawa. Namun, saat ini masyarakat di seluruh Indonesia pun telah mengenal dan mengenakan batik.

Tak hanya itu, saat ini juga terdapat berbagai macam batik dari tradisional hingga modern dan dengan berbagai corak dan warna. Batik pun telah menjadi identitas bangsa Indonesia yang dikenakan oleh seluruh masyarakat baik tua maupun muda.

Berbagai tokoh terkenal di Indonesia juga telah memperkenalkan batik di kancah internasional, seperti mantan Presiden Soeharto yang menjadikan batik sebagai lambang di APEC.

"Awalnya Ali Sadikin ingin batik jadi pakaian resmi," sambung JK.

Tak hanya tokoh nasional, Mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela menjadi tokoh dunia pertama yang memperkenalkan pakaian batik secara internasional.

"(Nelson Mandela) Dia yang pertama pakai batik di PBB, bukan presiden kita. Kita hormati di‎a. Jadi Mandela lah yang perkenalkan batik secara formal di internasional," kata Kalla saat memberikan sambutan.

Bahkan, penggunaan batik sebagai seragam di maskapai penerbangan lebih dulu dilakukan negara sahabat dibandingkan maskapai dalam negeri.

"Singapura dan Malaysia Airlines, justru Garuda terakhir pakai batik," tambah dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA