Thursday, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Thursday, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Pernikahan Putra Jokowi

Keraton Kasunanan Surakarta Jelaskan Filosofi 'Bleketepe'

Selasa 09 Jun 2015 16:19 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Ilustrasi - KERATON SOLO.Sejumlah kendaraan melintas di depan Keraton Surakarta, Solo, Jumat (16/10).

Ilustrasi - KERATON SOLO.Sejumlah kendaraan melintas di depan Keraton Surakarta, Solo, Jumat (16/10).

Foto: Antarafoto

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Keraton Kasunanan Surakarta menjelaskan filosofi pemasangan "bleketepe" yakni anyaman dari daun pohon kelapa yang dilaksanakan sebagai salah satu ritual adat Jawa dalam pernikahan putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka.

Wakil Pengageng Sasana Wilapa Kasunanan Surakarta KPA Winarno di Solo, Selasa, mengatakan bleketepe (anyaman blarak/daun kelapa) biasanya dipasang sehari sebelum pelaksanaan pernikahan. "Pemasangan bleketepe yang dilakukan oleh orang tua pengantin merupakan awal pemasangan tarub," katanya.

Pada pernikahan Gibran dan Selvi Ananda, pemasangan bleketepe dilaksanakan pada Selasa (9/6) sekitar pukul 15.00 WIB di rumah kontrakan keluarga mempelai wanita di Banyuanyar, Sumber, Solo, Jawa Tengah.

Bleketepe terbuat dari daun kelapa yang masih hijau dan dianyam dengan ukuran rata-rata 50 cm x 200 cm. Menurut KPA Winarno, bleketepe yang dipasang di tarub dan mengelilingi area untuk pernikahan, merupakan perwujudan dari suatu tempat penyucian di kahyangan para dewa yang dinamakan Bale Katapi.

Bale artinya tempat, Katapi dari kata tapi yang berarti membersihkan dan memilahkan kotoran-kotoran untuk kemudian dibuang. Dengan demikian pemasangan bleketepe dapat diartikan secara luas sebagai ajakan orang tua dan calon pengantin kepada semua orang yang terlibat di dalam upacara hajatan untuk berproses bersama menyucikan hati.

KPA Winarno menjelaskan secara umum seluruh rangkaian pernikahan dalam adat Jawa mengandung filosofi yang dalam. Ia melanjutkan setelah pemasangan bleketepe akan disusul dengan prosesi adang pertama atau menanak nasi pertama.

"Menaikkan tarub, bapak mempelai wanita naik tangga dan ibu berikan anyaman blarak setelah turun pasang tuwukan pisang basah. Kemudian ada acara siraman untuk mempelai wanita di dalamnya ada rangkaian ada jualan dawet," katanya dan menambahkan bahwa semua prosesi itu ada filosofinya.

Misalnya, tarub dalam sejarahnya Ki Ageng Tarub memasang peneduh untuk tamu yang hadir dalam acara pestanya. Lalu adang pertama dimaksudkan agar tuan rumah bisa memberi makan sanak saudara yang mendukung terlaksananya pesta.

Lalu prosesi siraman mempelai wanita melambangkan upaya penyucian diri secara lahir dan batin karena esok harinya bersiap menerima wahyu jodoh. Sedangkan malam midodareni, kata KPA Winarno, melambangkan turunnya para bidadari pada malam hari untuk memberikan keberkatan kepada calon pengantin.

Esok harinya dilaksanakan akad nikah berlanjut dengan ritual temu panggih dimana mempelai pria menginjak telor yang melambangkan keturunan. Mempelai wanita membasuh kaki mempelai pria menyimbolkan rasa baktinya.

Prosesi adat Jawa itulah yang akan dilaksanakan dalam pernikahan Gibran dan Selvi yang rangkaian acaranya mulai 7-11 Juni 2015 di Solo, Jawa Tengah.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES