Monday, 12 Jumadil Akhir 1442 / 25 January 2021

Monday, 12 Jumadil Akhir 1442 / 25 January 2021

Faktor Ekonomi Pendorong Gerakan Terorisme

Selasa 19 May 2015 06:57 WIB

Red: Agung Sasongko

Terorisme

Terorisme

Foto: Republika/ Tahta Aidilla

REPUBLIKA.CO.ID, BANDARLAMPUNG -- Lingkar Studi Cendekia United Kingdom, sebuah forum diskusi mahasiswa Indonesia di Inggris kembali mengadakan diskusi dengan tema aktual menyikapi sejumlah permasalahan penting di Tanah Air.

Menurut mahasiswa Indonesia asal Lampung di Inggris, Arizka Warganegara, menyampaikan, pada Sabtu (16/5), diskusi seri ketiga forum diskusi mahasiswa Indonesia itu bertempat di York, Inggris, dengan mengangkat tema "Terorisme dengan pendekatan multi-dimensional."

Salah satu fasilitator diskusi adalah Najamudin, kandidat doktor Religious Studies University of Leeds yang menjelaskan asal muasal gerakan terorisme yang menggunakan nama Islam.

"Alasan orang melakukan tindakan terorisme tidak lagi berdasarkan materi, namun ada harapan bahwa orang tersebut mendapatkan ganjaran di surga. Faktor ini yang membedakan terorisme bernuansa politik murni dengan ideologi Islam," ujarnya.

Diskusi berlanjut membahas wacana pembubaran Densus 88 yang dinilai melanggar HAM. Namun Najamudin segera menyanggah bahwa Densus 88 masih sangat dibutuhkan, dan jika ditemukan kesalahan dalam praktik di lapangan itu dapat diperbaiki, dibandingkan membubarkan kemudian membuat lembaga baru, tentu biayanya sangat besar.

Menurut Bhima Yudhistira dari University of Bradford, faktor-faktor yang membuat terorisme menjadi wabah bukan sekadar persoalan agama saja, tapi terdapat faktor ekonomi. "Pemerintah harus paham bahwa pelajaran dari kegagalan ekonomi di Irak dan Suriah-lah yang menjadi faktor pendorong radikalisme pemuda-pemuda usia produktif di sana, sehingga antisipasi terorisme harus dimulai dari perbaikan kondisi ekonomi," ujarnya.

Pada akhirnya forum diskusi menyimpulkan bahwa penanganan terorisme juga perlu melihat unsur psikologis dari anak-anak para tersangka terorisme. Hendaknya diberikan perhatian khusus bagi keluarga terpidana terorisme, agar rantai terorisme dapat terputus secara tuntas.

Pemerintah perlu membuka opsi-opsi lainnya, sehingga tindakan penanganan terorisme tidak sekadar bernuansa represif saja.

Hadir dalam diskusi tersebut beberapa anggota pegiat Lingkar Studi Cendekia, seperti Aswin Azhar Siregar, Giovani Van Empel, M Haikal Karana, La Ode Sabaruddin, Herri Mulyono, Zaid Perdana Nasution, Bustanul Arifin, dkk.
Arizka menyatakan, pada seri keempat diskusi bulan depan, forum ini akan membahas persoalan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

"Kami juga mengundang kawan-kawan di Tanah Air dan seluruh penjuru dunia dapat bergabung untuk berdiskusi dengan memanfaatkan fasilitasi Google Hangout," kata Koordinator Lingkar Studi Cendekia (LSC) Zaid Perdana Nasution.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA