Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Hari Kesehatan Dunia, RI Masih Alami Kasus Ketidakamanan Pangan

Selasa 07 April 2015 07:18 WIB

Rep: Hilyatun Nishlah/ Red: Indira Rezkisari

Buah dan sayuran merupakan sumber makanan kaya serat.

Buah dan sayuran merupakan sumber makanan kaya serat.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari ini (7/4) jatuh sebagai Hari Kesehatan Dunia. Tema Hari Kesehatan Dunia kali ini berkutat pada isu keamanan pangan.

Kepala Badan Peneliti dan Pengembangan (Kabalitbang), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Prof Tjandra Yoga Aditama menjabarkan beberapa kondisi luar biasa (KLB) yang dialami Indonesia, sepanjang awal tahun ini, berkenaan dengan keamanan pangan.

Ia menyebutkan, pada minggu 11 tahun ini, beberapa kasus keracunan makanan terjadi pada saat itu. Pertama, keracunan pangan di Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah sebanyak 51 kasus tanpa menyebabkan kematian. Diduga, karena mengkonsumsi nasi bungkus yang sudah tak baik.

Kedua, KLB keracunan pangan terjadi di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah sebanyak tujuh kasus tanpa kematian. Diduga, karena saus dari mi ayam pangsit. Ketiga, KLB diare yang terjadi di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumateran Utara sebanayak 18 kasus tanpa kematian. Diduga, karena mengkonsumsi air minum keliling.

"Kemudian, pada minggu ke 12 tahun ini KLB keracunan juga terjadi di beberapa tempat," ujarnya.

Sebanyak tiga kasus tanpa kematian KLB keracunan pangan terjadi di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Diduga karena mengkonsumsi roti yang sudah kadaluarsa. Kemudian, keracuanan pangan juga terjadi di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Tercaat, 89 kasus tanpa kematian. Diduga, karena mengkonsumsi nasi bungkus setelah upacara adat.

Selain itu, KLB keracunan pangan juga terjadi di Kabupaten Kolako, Provinsi Sulawesi Tenggara, tercatat terdapat 38 kasus tanpa kematian. Diduga, karena makanan katering.

Prof Tjandra mengatakan, contoh tersebut adalah bentuk laporan awal, yang akan diteliti lebih mendalam dari sudut epidemiologi dan laboratorium. "Oleh karenanya, Kemenkes menurunkan tim, untuk terjun langsung ke lapangan untuk melakukan pendalaman maslaah lebih lanjut," lanjutnya. Ia menambahkan, sebelumya Kemenkes juga telah melakukan upaya tindakan pertama setelah KLB itu terjadi. Sebut saja seperti, investigasi, penanganan dan pengobatan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES