Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Sastra Islami Sudah Menjadi Mainstream

Jumat 13 Mar 2015 07:53 WIB

Red: Erik Purnama Putra

Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda.

Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda.

Foto: cabiklunik

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhammad Subarkah/Wartawan senior Republika

Ahmadun Yosi Herfanda lahir di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1958. Ia adalah seorang penulis, jurnalis, sastrawan, sekaligus guru serta pembimbing para generasi muda yang ingin serius menjadi penulis. Berbagai penghargaan atas karya esai sastra, cerpen, dan sajak sufistik sosial-religius yang telah diraihnya.

Ahmadun juga bisa disebut sebagai orang yang konsisten mengikuti perkembangan sastra islami. Setiap tahun ia selalu menjadi juri pemilihan karya sastra Islami terbaik (Islamic Book Award) yang muncul pada ajang tahunan Islamic Book Fair di Jakarta.

Salah satu sentuhan tangan dinginnya adalah ketika Ahmadun menjabat sebagai redaktur sastra harian Republika. Dialah yang menemukan karya Ayat Ayat Cinta yang ditulis Habiburrahman El Shirazy.

“Saya ingat Habib datang pertama kali ke rumah saya sembari membawa novel itu yang masih dalam bentuk stensilan. Waktu itu dia datang dengan kaki yang masih terluka karena kecelakaan. Saya tertarik dan menerbitkannya secara bersambung di Republika. Eh, ternyata karya itu sukses luar biasa. Dan di sinilah saya yakin sastra Islami punya kekuatan luar biasa,” kata Ahmadun.

Bagaimana perkembangan sastra Islami di Indonesia pada saat terakhir ini?

Sebenarnya dilihat secara umum saya menganggap perkembangan sastra islami cukup menggembirakan. Meskipun dalam beberapa waktu terakhir sedikit terlihat stagnan atau tidak terjadi perkembangan yang sangat luar biasa, namun geliat pertumbuhannya sudah tak bisa ditahan lagi. Jadi kalau kita boleh mengatakan bahwa novel Ayat Ayat Cinta merupakan puncak dari fiksi islami bila dilihat dari sisi pasar, maka sampai usaha membuat “ledakan” baru terus dilakukan. Dan saya yakin akan kembali terjadi karena tampaknya tinggal tunggu waktu saja.

Memang setelah itu hingga kini banyak novel yang lebih baik dari Ayat Ayat Cinta. Beberapa karya di antaranya secara isi lebih baik, tapi secara penjualan tampaknya tarikan pasarnya belum sekuat itu. Tapi kalau dilihat secara rata-rata pertumbuhan karya sastra islami terus terasa menarik.

Pada sisi lain, kalau bicara mengenai sastra Islami memang tak bisa hanya disandarkan pada segi pasar belaka. Sebab, dalam hal sastra Islami memang dikenal beberapa kencenderungan atau mainstream (genre) yang berbeda. Jadi, bukan bersifat tunggal ekspresinya.

Lalu seperti apa bentuk mainstream sastra Islami yang ada itu?

Kecenderungan ini banyak sekali dan tak bisa hanya menyebut karya novel saja. Dalam sastra Islami di Indonesia, misalnya, hal itu juga ada ekspresi dalam bentuk puisi. Ini bisa dirunut sejak zaman Hamzah Fansuri, Raja Ali Haji, Amir Hamzah, sedikit disentuh Chairil Anwar dengan puisi “Doa”-nya itu, kemudian ada Abdul Hadi WM, Kuntowijoyo yang kemudian mengeksplorasi lebih dalam lagi.

Setelah mereka itu sejujurnya kita harus akui situasi sastra islami, dalam hal ini karya puisi, agak menyurut. Misalnya, tidak ada atau muncul lagi puisi sufistik yang sekuat karya Abdul Hadi WM. Pada genre di luar puisi, sampai sekarang belum lagi muncul prosa-prosa Islami (sufistik) yang sekuat karya Danarto. Selain itu juga belum ada lagi novel sekuat karya Kuntowijoyo atau Ahmad Tohari.

Maka dalam hal ini sastra Islami yang “serius” harus diakui mengalami situasi surut. Dan yang kuat sekarang justru mainstream sastra islami yang pop.

Oh, ya, kalau dirunut lagi, siapa “bapak” dari novel pop islami yang kini tengah populer itu?

Kalau kecenderungan sastra Islami dalam bentuk novel pop saya kira bisa kita runut dari sosok Buya Hamka. Sedangkan, kalau novel pop itu sendiri sebenarnya sudah lebih dulu ada, yakni sejak zaman Belanda. Hal ini misalnya bisa dilihat melalui berbagai karya sastra yang dibuat oleh kalangan yang kerap disebut “Cina peranakan” itu. Nah, novel-novel Cina peranakan pada awal abad ke-19 itulah yang memelopori novel pop (romantik) dengan memakai bahasa Melayu pasar.

Khusus untuk novel islami, maka melalui tangan Buya Hamkalah novel pop islami Indonesia mulai muncul. Karya Hamka seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Di Bawah Lindungan Ka'bah, itu jelas karya Islami tapi sekaligus juga romantik. Maksudnya, novel romantik ini kalau dibaca itu mengharukan serta menguras air mata. Dan gaya novel pop Islami ini kemudian juga pernah menghilang pada waktu yang lama. Sedangkan, “novel populer biasa” juga pernah jaya pada dekade 1970 dengan munculnya karta-karya dari Marga T atau Motinggo Boesye.

Nah, novel bergenre islami ini muncul secara lebih semarak setelah Forum Lingkar Pena bergerak untuk memolerkannya kembali. Inilah yang kemudian melahirkan sosok sastrawan baru seperti Habiburrahman El Shirazy dengan karya Ayat Ayat Cinta itu. Nah, nobel ini sebenarnya sebuah karya novel romantik, maka kita sebut saja karya Habiburrahman ini sebagai karya “novel pop Islami” atau “novel romantik islami”.

Bagaimana setelah muncul karya itu?

Setelah karya itu muncul, gairah publik terhadap novel pop Islami juga sempat menurun. Ini lebih disebabkan karena publik kemudian belum menemui karya yang sekuat tarikan pesona romantik Ayat Ayat Cinta. Penyebab lainnya karena pasar (publik) mengalami kejenuhan karena pada saat yang hampir bersamaan dengan terbitnya Ayat Ayat Cinta pasar pada waktu itu langsung kebanjiran novel dengan nuansa yang hampir serupa.

Dengan kata lain, para penulis novel setelah Ayat Ayat Cinta tidak menulis hal-hal yang baru di luar tema yang ada dalam novel Habiburrahman itu. Misalnya, hanya berputar pada masalah percintaan, perkawinan, atau kehidupan masyarakat Islam yang ada di kalangan anak-anak muda.

Hal yang sama juga terjadi para karya sastra islami yang ada di luar genre romantik atau pop itu. Inilah yang saya sebut tadi sebagai suasana yang belum tumbuh kembali, atau masih tetap dalam kondisi yang surut. Fiksi atau sastra Islami yang “serius” setelah era AA Navis (Robohnya Surau Kami), melompat ke Kuntowijoyo (Khotbah Di Atas Bukit), atau Ahmad Tohari (trilogi Ronggeng Dukuh Paruk) belum muncul lagi karya yang punya eksplorasi sedalam mereka. Ini terlihat jelas bila mengacu pada eksplorasi bahasa, setting sosial, budaya, hingga nilai-nilai kebudayaan yang menjadi tema para penulis karya sastra islami masa kini.

Nah, di masa sekarang inilah cerita dengan tema “lebih serius” (di luar romantik) yang masih susah didapatkan. Paling tidak, sekarang tak ada lagi karya yang sepopuler para tokoh sastra itu. Dan kalau pun masih dibilang ada, maka memang beberapa orang yang ingin membuatnya. Sayangnya karya itu belum mampu menyedot perhatian publik.

Kenapa tak ada lagi generasi masa kini yang bisa membuat karya sekuat dan semenarik mereka?

Itu sebenarnya persoalan yang kompleks untuk dijawab. Namun, harap dipahami, pernyataan saya di awal yang mengatakan bahwa karya sastra Islami yang serius tidak ada, sebenarnya sifatnya tidak mutlak 100 persen. Ini karena sebenarnya ada beberapa karya sastra Islami yang serius, misalnya ada pada karya Afifah Afra. Sastrawan ini mengangkat kisah dengan tema mengenai sebuah pabrik gula di Solo yang terkait konflik sosial dengan diberi bingkai nilai Islami.

Namun sayang, meski temanya sangat menarik, karena kemampuan bertuturnya tidak sehebat Ahmad Tohari atau Kuntowijoyo, akhirnya karya tersebut tak mampu menarik secara kuat perhatian publik. Selain dia, beberapa nama penulis lain pun begitu juga. Kebetulan saya membaca hampir semua karya sastra Islami yang sepanjang kurun waktu terakhir ini diterbitkan karena saya dari tahun ke tahun selalu menjadi juri Islamic Book Award. Jadi, sebenarnya masih banyak yang berusaha menulis novel Islami yang serius, namun hasilnya masih belum optimal.

Nah, karena memang mereka masih punya beberapa kelemahan, terutama kemampuan dalam bercerita, maka karyanya hanya menjadi sebuah karya sastra yang terasa berat ketika dibaca.  Ini bisa jadi karena para penulis itu terburu-buru atau karena mereka mencoba menulis novel yang serius dan padat. Namun sayang, upaya ini membuat kemampuan mereka bercerita secara renyah menjadi hilang. Akibatnya, banyak di antara karya mereka yang ketika dibaca terasa berat karena terlalu padat informasi dan fakta sejarah.

Nah, hal serupa juga terjadi pada penulis lain yang berupaya menulis novel Islami serius, seperti yang ditulis mantan ketua Forum Lingkar Pena Irfan Hidayatullah. Novelnya tebal dan sangat serius karena mungkin ingin masuk ke wilayahnya sastra Kuntowijoyo atau Ahmad Tohari. Tapi sayang, karena terlalu asyik berwacana dan memberi bobot informasi, maka dia lupa bahwa novel itu tetap harus dituturkan dengan renyah.

Jadi, dalam beberapa tahun terakhir, kecenderungan apa yang terjadi dalam perkembangan sastra Islami di Indonesia?

Ya, saya rasa ada upaya yang terus menerus dari kawan-kawan penulis fiksi Islami untuk terus berkarya dengan serius dan tekun. Dengan caranya masing-masing, mereka tetap bersemangat untuk terus membangkitkan sastra Islami. Tapi tampaknya memang belum berhasil secara lebih optimal.

Namun, harus diakui pula ada perkembangan yang menarik dengan munculnya karya yang ditulis Tere Liye. Dia yang memulai debutnya dari novel Hafalan Shalat Delisa kini makin serius dalam menulis karyanya. Di antara novel-novel dia ada satu novel karya dia yang bagus, yakni novel Rindu. Dan karena novel ini baru terbit, maka belum bisa diketahui seberapa besar sambutan pasar kepada karya ini. Namun faktanya novel ini telah menjadi pemenang utama Internasional Book Award (IBA) tahun 2015. Saya kira novel Rindu ini akan bisa menarik perhatian publik. Ya, mudah-mudahan saja.

Sebenarnya bagaimana posisi sastra Islami dalam sastra Indonesia secara kesuluruhan. Apakah sudah menjadi mainstream atau justru tetap berada di pinggiran (periferal)?

Saya kira sastra Islami akan tetap menjadi mainstream yang kuat. Cuma memang kritikus sastra di Indonesia kurang adil dalam menilai genre sastra Islami ini. Nah, ini juga menjadi problem serius,terutama bagi para kritikus. Sebab, memang mau tidak mau harus mengatakan bahwa pengamat sastra yang kuat atau dikenal publik, itu rata-rata pengamat sastra yang kurang peduli terhadap sastra Islami.

Akibat ketiadaan kritikus sastra Islami itu, maka perhatian publik terhadap karya sastra yang dikatakan sebagai kelompok karya sastra Islami, menjadi berkurang. Kenyataan ini berbeda dengan sikap para kritikus ketika memperhatikan “sastra sekuler”. Mereka jadi begitu jeli dan penuh perhatian ketika mencermati atau berhadapan dengan karya-karya sastra di luar genre Islami itu.

Kita bisa lihat misalnya bagaimana perhatian mereka yang begitu gegap gempita ketika membicarakan karya Ayu Utami. Cobalah perbandingkan dengan besarnya perhatian dan keseriusan kepada novel Ayat Ayat Cinta yang mega best seller itu. Atau juga bagaimana para kritikus yang ada sekarang ini memberi perhatian terhadap karya-karya sastra Islami lain yang datang lebih baru. Jawabnya, jelas belum ada. Dan di sini saya masih berprasangka baik, bahwa ketiadaan perhatian itu juga karena jangan-jangan kritikus sastra pada saat sekarang ini sudah tidak menulis lagi.

Situasi tanpa kritikus inilah yang saya tidak tahu secara persis apa yang menjadi penyebabnya. Akibatnya, kalaupun ada karya sastra Islami yang muncul, seperti yang terjadi pada karya Ahmad Tohari, kajian yang  ada malah berada di luar konteks sastra Islami itu. Karya itu kemudian dilihat sebagai karya sastra yang memuat budaya lokal yang kuat saja dan dianggap bukan karya sastra yang memuat pesan Islami.

Sebenarnya ciri karya sastra Islami secara sederhana itu apa?

Memang kalau dilihat ciri maka itu menjadi rumit. Namun, ini bisa disederhanakan. Ciri yang pertama, adalah bila karya itu membawa semangat yang Islami dalam pengertian yang luas atau mencerahkan pembaca sembari membawa pesan Islam. Dan cara penyampaiannya harus disampaikan dalam koridor nilai-nilai Islam. Ini misalnya menghindari pornografi, sarkasme, dan adegan-adegan yang potensial yang mengajak pembaca melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Sebetulnya pasar sastra Islam ada tidak?

Ada dan besar pangsanya. Cuma kalau mau menghitungnya secara eksak, itu sudah dilakukan. Namun, ini bisa dilihat dari serapan buku karya sastra Islami di pasaran. Ternyata buku-buku karya Habiburrahman El Shirazy menyerap begitu banyak penjualan. Buku Asma Nadia juga laris terjual meski dia kini cenderung memilih genre yang lebih populer. Jangan lupa buku Ahmad Fuadi, Negeri 5 Menara, juga sangat laris. Begitu juga buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang juga bisa dimasukkan sebagai sastra Islami juga begitu banyak. Karya kedua ini, selain inspiratif, di sana juga ada semangat memberikan nuansa Islami karena memberikan keteladanan kepada pembacanya.

Pada sisi media massa, menurut Anda apakah ada kendala ketika mereka ingin memproduksi karya sastra Islami?

Saya kira tidak. Sebab, karya sastra Islami juga bisa dipromosikan. Memang persoalannya adalah lebih kepada keseriusan penerbit itu di dalam mempromosikannya. Inilah yang saya kira banyak membuat kegagalan karena produknya tidak bisa dikenal publik secara luas. Ayat Ayat Cinta, misalnya, begitu terkenal juga karena publik terlebih dahulu karena dimuat secara bersambung di Republika. Nah, saya lihat promosi buku itulah yang sekarang tetap tidak serius dilakukan oleh penerbit.

Pada sisi lain dukungan media besar kepada sastra Islami masih terasa kurang sekali. Mereka lebih suka menyambut karya sastra yang sifatnya “sekuler”. Dan situasi didukung oleh selera media massa masa kini yang terlihat nyata cenderung mendukung proses sekularisasi dan liberalisasi serta membawa ideologi “pemberontakan”, makanya karya sastra Islami tak mendapat tempat.

Dan ini masuk akal karena media-media mainstream itu bukanlah media Islam, melainkan media sekuler. Akibatnya penyebaran karya sastra Islami tidak didukung oleh banyak media. Alhasil, karya sastra Islami ini terkesan berada di pinggir dan kurang mendapat perhatian publik yang notabene merupakan kaum Muslim itu. Padahal, kenyataan sebenarnya sudah tak seperti itu. Sekali lagi, sastra Islami sudah menjadi mainstream sastra Indonesia masa kini.

Melihat kenyataan itu saya optimistis sastra Islami akan terus membesar di masa depan. Apalagi, sampai sekarang masih ada pihak yang menyemangati para penulis muda dan penerbit untuk terus menyebarluaskan karyanya. Patut diingat pula, bila dilihat dari jumlah penerbit maka jumlah penerbit yang peduli ada karya sastra Islami sekarang sudah jauh lebih banyak dibandingkan dengan penerbit karya sastra “biasa” (sekuler).

Begitu juga dengan jumlah generasi penerus penulis karya Islami yang tetap tumbuh serta terus berkreasi. Dengan demikan sebenarnya munculnya berbagai karya sastra Islami yang bermutu dan laris di pasaran sebenarnya hanya tinggal tunggu waktu saja. Salah satu buktinya ya tecermin pada semakin besarnya ajang pameran buku-buku Islami (Islamic Book Fair) itu. Di ajang itu jelas sastra Islam sudah menjadi sebuah kekuatan tersendiri.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA