Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Dua Obyek Baru Diduga Badan Air Asia Kembali Ditemukan

Kamis 08 Jan 2015 20:41 WIB

Rep: Mas Alamil Huda/ Red: Indira Rezkisari

Petugas mengantarkan jenazah korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 dari KD Malaysia di Lanud TNI AU Iskandar, Pangkalan Bun, Kalteng, Kamis (8/1).

Petugas mengantarkan jenazah korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 dari KD Malaysia di Lanud TNI AU Iskandar, Pangkalan Bun, Kalteng, Kamis (8/1).

Foto: Wihdan Hidayat/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Badan SAR Nasional (Basarnas) kembali menemukan dua obyek baru yang diduga bagian dari pesawat Air Asia QZ 8501 di hari ke-12 pencarian. Dua obyek tersebut dideteksi oleh Kapal Baruna Jaya milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Sektor 2 pencarian.

"Sampai saat ini total ada 7 obyek di bawah permukaan laut yang diduga bagian pesawat, kecuali 1 obyek yakni ekor yang sudah pasti," kata Kepala Basarnas Marsdya FH Bambang Soelistyo di kantor Basarnas, Jakarta, Kamis (8/1).

Dia mengatakan, tim SAR gabungan akan segera memastikan apakah obyek baru tersebut benar bagian dari pesawat nahas yang jatuh pada Ahad (28/12) lalu itu. Jika memungkinkan, lanjutnya, pendeteksian dilakukan menggunakan remotely operated vehicle (ROV) dan penyelaman.

Tetapi, menurut Soelistyo, selain mencari korban, prioritas pencarian tetap tertuju pada kotak hitam. Untuk itu, Basarnas akan mengangkat ekor pesawat yang kemungkinan di dalamnya ada komponen pesawat yang paling dicari tersebut. "Ekornya, besok (Jumat, 9/1) rencana akan kita angkat," ujarnya.

Dia menjelaskan, pengangkatan ekor akan dilakukan dengan menggunakan dua pilihan. Pertama bisa memakai floating balloon yang dimiliki TNI AL. Dan yang kedua menggunakan crane yang saat ini berada di Kapal Crest Onyx milik Rusia.

Floating balloon, kata dia, mampu mengangkat beban hingga 10 ton. Saat ini alat tersebut sudah berada di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Sementara crane yang ada di Kapal Crest Onyx milik Rusia mampu mengangkat beban hingga 70 ton.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA