Senin, 19 Zulqaidah 1440 / 22 Juli 2019

Senin, 19 Zulqaidah 1440 / 22 Juli 2019

Pengamat: Indonesia Darurat Energi

Jumat 03 Okt 2014 19:54 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Ladang migas

Ladang migas

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI), Ferdinan Hutahaean berpendapat saat ini kondisi energi Indonesia dalam keadaan darurat.

"Saya tidak mengerti apakah ini tidak dipahami oleh pemangku kebijakan negara kita ini atau memang sengaja dipermainkan dengan bahasa politik yang meninabobokan masyarakat," ucapnya di Jakarta, Jumat (3/10).

Ia mengatakan, jika dilihat dari kondisi global saat ini, produksi minyak dan gas dunia hanya sekitar 95 juta barel per hari. "Separuh harus dikonsumsi oleh negara produsen dan separuhnya digunakan diperjual belikan sekitr 45 juta barell, dan 25 juta barell tiap harinya dibeli oleh 5 negra importer terbesar, seperti Amerika Serikat, Cina, Jepang, India, sedangkan Indonesia diurutan ke 14," bebernya.

Yang paling mengkhawatirkan, kata dia, adalah masih mampukah 5-10 tahun lagi berebut minyak impor di pasar internasional, sementara Indonesia dinilai sebagai bangsa yang lemah. "Karena, siapa yang kuat secara militer maka dia yang akan mendapatkan pasokan minyak di pasar internasional," ucap dia.

Dihubungi terpisah, Direktur Global Future Institute (GFI) Hendrajit menilai presiden terpilih, Joko Widodo tidak memiliki skema yang tepat dalam memerangi mafia migas. Sebab, menurut Hendrajit, segala wacana yang sudah dibuat tidak ada yang menyentuh mafia di level hulu.

"Skema yang dimiliki para mafia itu sangat struktural dan kaderisasi. Mereka meletakkan agen di satu institusi Pemerintahan untuk mempengaruhi suatu kebijakan," ucapnya.

Hendrajit menuturkan, kader-kader mafia yang diletakkan ke dalam instansi Pemerintahan biasanya berada di level-level yang di bawah seperti di eselon III atau eselon I bukan tingkat Menteri. Akan tetapi, meski kedudukannya di bawah tapi bisa sangat berpengaruh terhadap kebijakan.

Teranyar muncul nama Widhyawan Prawira Atmaja yang disebut-sebut menjadi kandidat Dirut Pertamina. Widhyawan diprediksi akan bersaing bersama Darwin Silalahi dan Taslim Yunus yang sebelumnya hangat diperbincangkan bakal menempati posisi Direktur Utama (Dirut) Pertamina.

"Widyawan adalah orang dekat dengan Ari Soemarno yang akan di jadikan Dirut Pertamina. Sementara Ari Soemarno sendiri salah satu kandidat terkuat untuk menempati komisaris utama di Pertamina. Bisa dilihat skemanya jika skenario itu terwujud, sebagai upaya menggeser kekuatan mafia migas lama era SBY," papar Hendrajit.  Informasi yang beredar, Widyawan ditarik Ari Soemarno dalam Tim Pokja Energi Rumah Transisi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA