Sunday, 29 Sya'ban 1442 / 11 April 2021

Sunday, 29 Sya'ban 1442 / 11 April 2021

Kelangkaan Bensin Dampak dari Pengurangan Subsidi

Ahad 24 Aug 2014 19:50 WIB

Rep: Aldian Wahyu Ramadhan/ Red: Joko Sadewo

Kendaraan mengantre mengisi BBM di SPBU.

Kendaraan mengantre mengisi BBM di SPBU.

Foto: Republika/Yasin Habibi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina (Persero) mulai mengurangi pasokan BBM bersubsidi. Langkah tersebut dampak dari pengurangan kuota dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2014, yang mengurangi kuota BBM bersubsidi dari 48 juta kiloliter (kl) menjadi 46 juta kl.

Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan, berdasarkan APBN-P 2014, kuota BBM bersubsidi dikurangi dari 48 juta kl menjadi 46 juta kl. Sesuai dengan amanat UU No.12 Tahun 2014 tentang APBN 2014, maka Pertamina harus melakukan pengaturan kuota per harinya untuk memastikan BBM bersubsidi cukup hingga akhir tahun 2014.

Terjadi kelangkaan BBM bersubsidi di banyak daerah, di antaranya Cirebon dan Indramayu. Kondisi tersebut sudah terjadi berhari-hari.

Sebelumnya, Pada APBN 2014 ditentukan kuota BBM bersubsidi 48 juta kl. Namun, pada APBN-P 2014 kuota BBM bersubsidi direvisi menjadi 46 juta kl. Alhasil, rancangan pasokan dan penyaluran yang tadinya disesuaikan untuk kuota 48 juta kl menjadi diubah mengikuti kuota 46 juta kl.

Ali menerangkan, APBN-P 2014 telah menggariskan kuota BBM bersubsidi tidak boleh melampaui kuota yang telah ditetapkan. Dengan kondisi tersebut maka hanya ada dua pilihan. Pertama, menyalurkan BBM bersubsidi secara normal dengan konsekuensi kuota BBM bersubsidi habis sebelum akhir tahun, yakni pertengahan November untuk Solar dan pertengahan Desember untuk Premium, dan selanjutnya masyarakat harus membeli BBM non subsidi hingga akhir tahun.

''Sementara pilihan lainnya adalah mengatur volume penyaluran setiap harinya sehingga kuota BBM bersubsidi bisa cukup hingga akhir tahun," ujar Ali seperti dikutip dari rilis, Ahad (24/8).

Secara teknis,  lanjut Ali, Pertamina melakukan pengaturan BBM bersubsidi secara prorata sesuai alokasi volume BBM bersubsidi untuk masing-masing SPBU dan lembaga penyalur lainnya yang telah dilakukan terhitung sejak 18 Agustus 2014. "Untuk tetap menjamin ketersediaan BBM di masyarakat, Pertamina menyediakan BBM non subsidi yang meliputi Pertamax, Pertamax Plus, Pertamina Dex, dan Solar non subsidi," kata dia.

Adapun, ujar Ali, terjadinya fenomena antrean dan disusul habisnya BBM bersubsidi pada sore hari di SPBU bukan merupakan kelangkaan BBM, tapi konsekuensi dari penyaluran BBM bersubsidi yang disesuaikan dengan kuota yang tersedia. Adapun Stok BBM yang ada di Pertamina berada pada level di atas 18 hari kebutuhan nasional.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA