Thursday, 18 Rajab 1444 / 09 February 2023

KH Sahal Mahfudz, Ulama Kontemporer yang Disegani

Jumat 24 Jan 2014 23:07 WIB

Red: Djibril Muhammad

 Sejumlah kerabat dan keluarga mengiringi proses pemakaman Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Sahal Mahfudz di kompleks makam Syeikh Ahmad al-Mutamakkin, Kajen, Margoyoso, Pati, Jateng, Jumat (24/1).  (Antara/Andreas Fitri Atmoko)

Sejumlah kerabat dan keluarga mengiringi proses pemakaman Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Sahal Mahfudz di kompleks makam Syeikh Ahmad al-Mutamakkin, Kajen, Margoyoso, Pati, Jateng, Jumat (24/1). (Antara/Andreas Fitri Atmoko)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Asrorun Niam Sholeh menilai KH Sahal Mahfudz adalah ulama kontemporer yang disegani karena kehati-hatiannya dalam bersikap dan kedalaman ilmunya dalam memberikan fatwa.

"Beliau dikenal sebagai ahli fikih yang sangat mumpuni, baik teori maupun praktiknya. Beliau menjadi sosok penting dalam menyukseskan program Keluarga Berencana dengan pendekatan fikihnya," ujar Asrorun Niam Sholeh melalui pesan singkat di Jakarta, Jumat (24/1).

Asrorun menambahkan, karena keilmuan, ketokohan, dan karakternya yang kuat, KH Sahal dipercaya sebagai Rais Aam Syuriah PBNU, yaitu pengendali tertinggi organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia, sejak 1999 hingga akhir hayatnya.

"Ketokohannya melampaui ormas asalnya. Beliau sejak tahun 2000 dipercaya sebagai Ketua Umum MUI, wadah berhimpun seluruh ormas Islam Indonesia. De facto n de jure, beliau menjadi pimpinan, panutan, tokoh bagi umat Islam Indonesia," kata Asrorun.

Asrorun menggambarkan bahwa kiyai yang lahir di Desa Kajen, Margoyoso, Pati pada tanggal 17 Desember 1937 tersebut merupakan sosok kreator, inovator dan motivator, yang jauh dari hingar bingar popularitas.

"Hidupnya untuk umat, tidak lagi untuk pribadinya. Selamat jalan Kyai, ulama praktisi, sosok pemersatu umat, sederhana dalam Penampilan dan Progressif dalam pemikiran," ujar Asrorun.

Menurut dia, bangsa Indonesia bisa belajar dari kesederhanaan, kesahajaan dan keteguhan pendiriannya untuk mengabdi demi kebaikan masyarakat.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA