Minggu, 10 Rabiul Awwal 1440 / 18 November 2018

Minggu, 10 Rabiul Awwal 1440 / 18 November 2018

Limar, Energi Alternatif Lebih Hemat dari Minyak Tanah

Selasa 07 Jan 2014 23:50 WIB

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Lampu Listrik Mandiri Rakyat (Limar) karya SMKN 4 Bandung saat dipamerkan pada acara 'Pembekalan Teknologi Inovasi Kreatif Menuju Bandung Juara dan Jabar Caang' di Bandung, Kamis (31/10). (Republika/Edi Yusuf)

Lampu Listrik Mandiri Rakyat (Limar) karya SMKN 4 Bandung saat dipamerkan pada acara 'Pembekalan Teknologi Inovasi Kreatif Menuju Bandung Juara dan Jabar Caang' di Bandung, Kamis (31/10). (Republika/Edi Yusuf)

REPUBLIKA.CO.ID, BANTAENG -- Penemu Listrik Mandiri Rakyat (Limar) Ujang Koswara mengatakan, penggunaan Limar jauh lebih hemat dibanding penggunaan lampu minyak tanah.

Penggunaan Limar juga lebih aman, katanya ketika menjelaskan temuannya itu yang baru diterapkan di Desa Kayu Loe kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Selasa (7/1).

Menurut Ujang Koswara, penemuan Limar berawal ketika keponakannya mau mengikuti ujian nasional, ketika itu minyak tanah langka padahal sang kemenakan mau belajar.

"Saat itu, sebuah telepon genggam terlihat dilengkapi senter. Mungkin ada mujizat dari atas, saya tertarik mempelajari bagaimana sebuah HP dilengkapi senter. Dari situ saya kembangkan dan akhirnya jadi," katanya.

Dia mengatakan bahan bakunya sangat sederhana, cukup satu unit baterai (Accu) yang dilengkapi material lain, untuk setiap unit rumah, dilengkapi lima unit mata lampu lengkap dengan accu-nya.

"Bila Accu tersebut soak, bisa diisi kembali di Kantor Desa. Biayanya hanya Rp 2000 untuk sekali isi. Untuk pengisian dilakukan di kantor desa dan dikendalikan langsung pak Desa," ujarnya.

Accu tersebut, ujar dia, diisi daya setiap bulan, karena itulah jika dibandingkan penggunaan minyak tanah akan jauh berbeda, terlebih minyak tanah juga sering langka.

Selain Limar, Ujang Koswara juga memperkenalkan teknologi kompor hemat energi yang diberi nama Kompor Sakti yang menggunakan limbah berbagai jenis, termasuk limbah dedaunan sebagai bahan baku pemanas.

Ujang pada kesempatan tersebut juga memperkenalkan penggunaan teknologi gas elpiji untuk sepeda motor yang mampu menjelajah hingga 600 kilometer per tabung 12 Kg.

Selain untuk sepeda motor, teknologi yang menggunakan gas elpiji tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk perahu motor. Ini penting untuk mencegah nelayan yang melaut kehabisan bensin.

Untuk kelanjutan penggunaan teknologi tepat guna di desa tersebut, sejumlah pemuda desa telah dilatih. Ke depan, Tim Limar juga akan melatih siswa SMK demi  membebaskan kabupaten berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar ini dari kegelapan.

"Kami siap membantu mewujudkan visi Bantaeng bebas gelap," ujar Ujang Koswara.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES