Kamis, 9 Safar 1440 / 18 Oktober 2018

Kamis, 9 Safar 1440 / 18 Oktober 2018

Duh Gizi Buruk Turun, Obesitas Malah Naik

Selasa 05 Mar 2013 01:10 WIB

Rep: Fenny Melisa/ Red: M Irwan Ariefyanto

Jaga pola makan anak

Jaga pola makan anak

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Masalah nutrisi bukan hanya soal gizi buruk. Kelebihan gizi atau obesitas juga mengancam kesehatan masyarakat. Angka obesitas justru makin bertambah setiap tahunnya di Indonesia.

Pola makan tidak seimbang dan aktivitas fisik yang rendah merupakan penyebab utama peningkatan angka obesitas meningkat. Direktur Bina Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Minarto mengatakan, ketika angka gizi buruk menurun, justru obesitas malah naik.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2010, kata Minarto, angka obesitas naik dari 12,2 persen pada 2007 menjadi 14,2 persen pada 2010. Sedangkan, angka gizi buruk turun dari 5,4 persen menjadi 4,9 persen. Angka prevalensi gizi lebih yang meningkat juga dipengaruhi oleh perubahan pola makan. "Sebagai contoh kebiasaan makan di luar rumah seringkali gizi makanannya tidak seimbang," kata Minarto.

Dia menyarankan masyarakat agar membudayakan pola makan seimbang dan menambah aktivitas fisik. Misalnya, memperbanyak konsumsi sayur dan buah serta mengurangi makanan yang mengandung karbohidrat dan lemak.

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan, masalah gizi merupakan hal yang sangat penting dan mendasar bagi kehidupan manusia. Obesitas juga menjadi ancaman bagi masyarakat selain gizi buruk yang dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. "Kelebihan berat badan juga masalah lain yang akan berdampak buruk pada hari tua kita," kata Nafsiah.

Menurutnya, obesitas tak hanya mengancam bayi di bawah lima tahun (balita), melainkan juga orang dewasa. Permasalahan gizi sangat kompleks, sehingga penanganannya memerlukan kelembagaan yang kuat dengan melibatkan berbagai ahli, disiplin, juga profesi dari kementerian serta pemangku kepentingan. Dia mendorong terbentuknya lembaga nutrition center untuk menangani masalah ini.

Nafsiah juga meminta keterlibatan masyarakat dan swasta dalam mengatasi masalah gizi di Indonesia. Untuk menanggulangi masalah tersebut, pihaknya bahkan telah menyediakan anggaran hingga Rp 700 miliar per tahunnya. Pemerintah memegang peran kunci dalam mengatasi masalah gizi.

Guru Besar Ilmu Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Soekirman mengatakan, optimalisasi peran pemerintah sudah saatnya ditingkatkan untuk mengejar target Tujuan Pembangunan Millenium (MDG's) dalam hal menekan tingginya angka gizi buruk. Salah satunya meningkatkan pemahaman gizi kepada para ibu rumah tangga berpendidikan rendah di daerah.

Menurut Soekirman, tingkat pendidikan masyarakat sangat memengaruhi kualitas asupan gizi anak, termasuk pemberian air susu ibu dan pemberian makanan tambahan. Faktanya, hampir 80 persen penderita gizi buruk berada di pedesaan, terutama wilayah terpencil yang belum banyak terjangkau pendidikan.

Dia berharap semua pihak memikirkan terbentuknya Undang-Undang Pangan yang khusus mengatur masalah penyediaan pangan untuk masyarakat. Selain untuk menekan gizi buruk, juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program Pangan Dunia (WFP) meramalkan, ketika angka malnutrisi berkurang satu persen, kemiskinan berkurang empat persen. Bila kemiskinan ditekan sampai berkurang satu persen, angka malnutrisi hanya berkurang 0,05 persen.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA