Friday, 17 Zulhijjah 1441 / 07 August 2020

Friday, 17 Zulhijjah 1441 / 07 August 2020

Banjir Masih akan Terjang Jakarta Hingga 2023

Sabtu 19 Jan 2013 14:08 WIB

Red: Djibril Muhammad

Banjir merendam kawasan Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (17/1).

Banjir merendam kawasan Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (17/1).

Foto: ANTARA/Wahyu Putro

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar politik perkotaan Irwansyah mensinyalir banjir masih akan melanda Ibu Kota DKI Jakarta dalam kurun waktu 10 tahun mendatang jika pembangunan infrastruktur tidak diimbangi dengan perbaikan pertumbuhan alam.

"Banjir tidak akan hilang dalam 10 tahun ke depan, melihat begitu parahnya ketidakseimbangan antara pertumbuhan bangunan infrastruktur dan faktor-faktor yang sifatnya memperbaiki pertumbuhan alam," kata dosen Politik Perkotaan, Ilmu Politik, Universitas Indonesia (UI), di Jakarta, Sabtu 919/1).

Pertumbuhan pembangunan kota yang mengabaikan risiko penataan kota secara ekologis, kata dia, dapat berdampak pada semakin rentannya Ibu Kota terhadap bencana banjir.

"Kalau kanal saja sudah tidak cukup, kemudian penyerapan air dan ruang terbuka hijau minim, sudah pasti Jakarta menyatakan diri sebagai 'Kota Banjir', mengkondisikan diri sebagai kota yang rentan banjir," katanya.

Oleh karena itu, pemerintah pusat dan Pemprov DKI Jakarta, bersama dengan masyarakat, katanya, harus segera membentuk mekanisme penanganan banjir. Penanganan banjir tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan sejumlah perkembangan teknis dan sosialisasi terus menerus kepada masyarakat.

"Misalnya penggunaan teknologi informasi dengan menyosialisasikan peta banjir Jabodetabek supaya warga waspada terhadap banjir dan kemacetan. Itu bisa menjadi paradigma ke depan bagi pemerintah kota," jelasnya.

Selain itu, dia menambahkan, pemerintah bisa memaksialkan penyampaian informasi kepada masyarakat untuk mengatasi berbagai masalah ketika banjir menyerang. 

"Ketika ada mobil terjebak genangan air, mayoritas warga tidak tahu bagaimana menggunakan kendaraan, karena ada cara khusus yang harus dilakukan ketika melintasi genangan air," tambahnya.

Masyarakat Jakarta lebih memerlukan sistem penanganan bencana banjir, di samping juga pembenahan terhadap infrastruktur perkotaan. Selain itu, kata Irwansyah, yang perlu diperhatikan adalah peningkatan penanganan pascabencana, agar kemungkinan masyarakat terjangkit penyakit dan sebagainya dapat diminimalisir.

Hujan deras yang melanda Jakarta dan sekitarnya selama beberapa membuat saluran banjir Kanal Banjir Barat tidak kuat menampung debit air. Akibatnya, pada Kamis (17/1) air meluap hingga mebanjiri kawasan jantung Ibukota, seperti Bundarah Hotel Indonesia, Dukuh Atas, Thamrin, Tanah Abang, Grogol dan terakhir di Pluit pada Jumat (18/1).

Saluran banjir Kanal Barat, yang dibangun mulai 1922, berawal dari daerah Manggarai ke arah barat melewati Pasar Rumput, Dukuh Atas, lalu membelok ke arah barat laut di daerah Karet Kubur. Selanjutnya ke arah Tanah Abang, Tomang, Grogol, Pademangan, dan berakhir di sebuah "reservoar" di muara, di daerah Pluit. 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA