Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Mengenang Zakiah Daradjat: Ulama Wanita Pertama yang Menjadi Ketua MUI

Selasa 15 Jan 2013 11:20 WIB

Red: Heri Ruslan

 Prof Zakiah Daradjat

Prof Zakiah Daradjat

Foto: wordpress.com

REPUBLIKA.CO.ID, Banyak orang terkejut, termasuk dirinya sendiri ketika namanya disebut K.H. Hasan Basri menjadi salah seorang ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Beberapa menit sebelum pembacaan nama-nama pengurus pusat MUI, beberapa ibu yang aktif mengikuti jalannya Munas MUI memberi selamat kepada dirinya.

''Saya sampai terheran-heran, ada apa ya kok saya diberi selamat?'' kata Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat mengenang suasana saat itu.

Zakiah sendiri mengaku tak tahu persis kenapa dirinya terpilih sebagai salah seorang pengurus inti MUI pusat. ''Mungkin karena persoalan wanita sudah demikian penting untuk ditangani, dan untuk itu perlu seorang wanita,'' kata psikolog lulusan Universitas Ain Syams Kairo ini kepada Muarif dari Republika, yang menemuinya di kediamannya, Kompleks Wisma Sejahtera, Jalan Fatmawati 6, Jakarta, Rabu (2/8) lalu.

Ketua Umum MUI K.H. Hasan Basri kepada Republika menjelaskan, usulan agar salah seorang ketua MUI dari kalangan wanita datang dari berbagai pihak. Pada mulanya diusulkan tiga nama: Dra. Hajah Tutty Alawiyah (pimpinan Perguruan Islam Asy-Syafiiyah, Jakarta), Dra. Hajah Siti Suryani Thahir (pimpinan Perguruan Islam Attahiriyah, Jakarta), dan Prof. Dr. Zakiah Daradjat sendiri. Namun setelah melalui berbagai musyawarah, terpilihlah Zakiah. Sedang kedua nama lainnya diposisikan sebagai anggota pengurus MUI.

Menurut Zakiah, jabatannya yang baru sebagai ketua MUI tidak akan mengganggu aktivitasnya di klinik konsultasinya, menjadi guru besar IAIN Jakarta, dan jabatannya sebagai Ketua Perhimpunan Wanita Alumni Timur Tengah. Berikut petikan wawancara dengannya tentang berbagai hal, termasuk pandangannya tentang peran wanita Islam sesudah 50 tahun Indonesia merdeka.

Bagaimana perasaan Anda ketika terpilih menjadi ketua MUI?

Saya bersyukur kepada masyarakat dan ulama yang dapat menerima salah seorang pimpinan MUI itu wanita. Ini penting karena tradisi ini bukan hanya pertama di Indonesia, namun juga pertama di dunia. Saya gembira juga terharu bahwa di Indonesia wanita sudah disejajarkan dengan pria dalam soal ini. Apalagi, usulan ketua wanita datangnya dari kalangan ulama pria. Saya tidak pernah mengusulkan diri, apalagi selama ini saya sudah duduk menjadi anggota.

Menurut Anda, apakah ada alasan tertentu kenapa baru sekarang ketua MUI dari kalangan wanita?

Wanita itu punya cukup peran penting dalam negara ini. Kerangka pembangunan agama sudah cukup baik, tapi kenapa tidak ada pengurus wanita. Barangkali begitu perkiraan saya.

Jadi, ketua MUI perempuan itu bukan usulan dari organisasi wanita Islam?

Tidak. Tidak ada yang menuntut. Oleh karena itu saya tidak punya persangkaan. Apalagi ketika itu saya ikut dalam salah satu sidang komisi. Ada empat komisi yang bersidang saat itu dan masing-masing bersidang di tempat yang berbeda. Yang saya tahu, ada sidang formatur yang diketuai oleh Pak Menteri Agama. Itu saja.

Atau karena sebelum ini, konsentrasi MUI masih kepada masalah laki-laki, sehingga belum merasa perlu memposisikan perempuan sebagai ketua MUI?

Ada yang sudah punya perhatian. Tapi, masih banyak ulama yang merasa bahwa wanita belum cukup mampu untuk menjadi ketua.

Lalu, menurut Anda, apakah sudah apa perubahan berpikir pada kalangan ulama pria itu?

Beberapa tahun belakangan ini wanita cukup gencar dalam pendidikan agama dan penyiaran agama. Utamanya bergerak dalam majelis taklim. Di Jakarta saja jumlahnya lebih dari 10 ribu, belum lagi di daerah-daerah. Jadi, kegiatan wanita di segala bidang itu semakin tampak. Ini barangkali yang membuat ulama pria itu semakin sadar.

Bagi Anda, apakah pemilihan Anda menjadi salah satu ketua MUI merupakan bentuk dari emansipasi?

Islam itu tidak mengenal emansipasi. Islam itu memberikan kepada wanita hak dan kewajibannya yang jelas. Dalam hal-hal yang bersifat umum itu haknya sama dengan pria. Jadi, itu bukan emansipasi, tapi hak kaum wanita yang belum terlaksana di banyak tempat.

Kira-kira apa program Anda sebagai ketua MUI dalam waktu dekat ini?

Saya kira program kerja belum bisa saya katakan. Kita kan belum rapat. Tapi, yang seringkali menjadi pemikiran saya bukan sebagai ulama adalah bagaimana meningkatkan kesadaran dan kemampuan kaum wanita untuk mendidik anaknya sehingga menjadi anak yang baik dan saleh, yang berakhlak. Lalu, bagaimana caranya agar anak-anak itu benar-benar mendapat bekal yang cukup bagi dirinya, baik bekal iman maupun keduniaannya.

Menurut saya, pendidikan anak itu harus dimulai dari rumah. Karena itu harus kita ciptakan keluarga yang sakinah. Ini memang bukan hanya tugas kaum wanita saja. Secara umum, perhatian saya adalah pendidikan. Mungkin ini pula yang akan jadi bahasan dalam rapat di MUI nanti.

Di kalangan ulama pria ada sebutan kyai, bagaimana dengan kalangan ulama wanita?

Karena tidak difungsikan seperti kaum lelaki, maka tidak ada sebutan untuk ulama wanita. Lagi pula, sebutan kyai itu kan istilah yang ada di Jawa. Di lain daerah, lain lagi sebutannya. Tuanku, di Sumatera Barat atau Tengku di Aceh, misalnya. Kalau wanita, kebanyakan ya sebutannya istri kyai atau Nyi.

Apakah selama ini pernah muncul ulama wanita yang peranannya sangat menonjol, terutama dalam masalah keagamaan?

Dulu ada, misalnya di Sumatera Barat ada Ibu Rahmah El Yunisiah. Beliau tokoh wanita Islam yang tidak hanya berjuang dalam perang kemerdekaan, namun juga menjadi pendiri sekolah yang sampai sekarang maju, bahkan hingga universitas. Juga ada Ibu Rangkayo Rasuna Said, Cut Nyak Dhien. Mereka semua merupakan tokoh wanita Islam, yang saya kira, tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat tapi juga menjadi pejuang bangsa.

Tapi, apakah ada tokoh wanita yang spesialisnya soal-soal fikih misalnya?

Kalau yang begitu saya belum menemukannya. Mungkin Ibu Rahma El Yunisiah bisa dimasukkan dalam hal ini.

Dalam Alquran tertulis bila anak-anak dan wanita adalah perhiasan dunia. Ini sepertinya menempatkan wanita sebagai pelengkap. Bagaimana pendapat Anda tentang anggapan tersebut?

Sebenarnya dalam Alquran itu ada ayat-ayat yang secara eksplisit menyebut bahwa laki-laki dan wanita yang beriman dan beramal saleh itu akan memperoleh balasan yang sama. Itu petunjuk bahwa wanita itu harus bekerja. Di ayat lain ada dijelaskan bahwa laki-laki dan wanita itu satu sama lain menjadi pemimpin. Tidak dikatakan bahwa pria harus menjadi pemimpin dari kaum wanita.

Lalu, bagaimana dengan pendapat yang mengatakan bahwa wanita itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, sehingga harus ikut kehendak kaum laki-laki?

Saya tidak menemukan petunjuk demikian. Tidak di Alquran, tidak pula di hadis. Dari mana asalnya legenda wanita diciptakan dari tulang rusuk kaum laki-laki, itu saya tidak tahu. Dalam penciptaan Ibu Hawa, saya tidak temukan penjelasan bila ia diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam. Mungkin pengkajian kita lebih banyak dari kisah-kisah yang belum jelas kebenarannya.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa peluang kaum laki-laki untuk masuk surga lebih besar dari kaum wanita, karena laki-laki bebas dalam beribadah, sementara wanita punya keterbatasan, seperti kalau sedang haid misalnya. Menurut Anda?

Kalau hal itu dijadikan alasan, ada hal lain yang juga bisa dijadikan alasan kaum wanita. Pria itu tidak pernah mengalami beratnya hamil dan sakitnya melahirkan. Betapa besar pahalanya kaum wanita dalam hal ini. Jadi, ada imbangan atas kekurangan yang dimilikinya.

Sebenarnya bagaimana sih fungsi kaum wanita menurut Islam itu?

Menurut saya, kaum wanita sama saja fungsinya dengan laki-laki. Mungkin di masa lalu, mencari rezeki itu memerlukan kerja keras dan tenaga kuat, sehingga hanya kaum laki-laki yang bekerja. Tapi, baik laki-laki maupun wanita harus bekerjasama dalam hal ini. Kalau di keluarga, laki-laki yang harus dipatuhi, itu memang demikian. Tapi dalam kehidupan bermasyarakat tidak demikian. Mereka sama, yang membedakan hanya kemampuannya. Kalau dalam keluarga harus ada yang dipatuhi, itu benar. Tapi kepatuhannya seperti apa, itu kan menjadi masalah. Kepatuhan itu menjadi relatif, kalau masuk akal maka baru bisa diterima.

Kalau begitu, wanita bebas untuk bekerja apa saja?

Di zaman Rasulullah, Siti Aisyah pernah ikut dalam peperangan. Siti Khadijah adalah konglomerat kaum Quraisy. Anak buahnya banyak dan itu laki-laki semua. Tentu saja, kita tidak bisa melepaskan adanya kodrat dari kaum wanita yang menyebabkan ia punya keterbatasan. Tidak mungkin rasanya kalau kemudian ada wanita yang menjadi kuli pelabuhan.

Kalau begitu memang ada bidang-bidang tertentu yang wanita tidak bisa bekerja di situ?

Kalau mengandalkan kekuatan fisik, mungkin tidak bisa. Demikian pula dengan bekerja ketika malam hari. Bagaimanapun juga mereka harus menjaga diri dari kejahatan hawa nafsu. Oleh karena itu saya paling tidak setuju dengan adanya pekerja wanita yang bekerja hingga larut malam. Masyarakat harus ikut menjaga wanita dalam hal ini, jangan sampai karena tidak hati-hati masyarakat rusak karena wanita.

Menurut Anda, apakah fikih itu hanya menguntungkan kaum laki-laki?

Ya, ada juga. Fikih itu kan pendapat dari para ulama. Itu penafsiran. Kalau ditafsirkan di zaman wanita itu rusak, maka sudah pasti cara pandangnya tidak ada wanita yang baik. Tapi, kalau penafsirannya di zaman wanitanya baik-baik, berpikir maju, fikihnya pasti akan memberi tempat kepada kaum wanita. Ini tergantung dari fikihnya. Fikih itu kan pemahaman terhadap ajaran Islam.

Kalau begitu perlu ada perombakan terhadap fikih, terutama berkenaan dengan kaum wanita?

Penafsiran-penafsiran yang dilakukan itu perlu dilihat kembali, misalnya, kapan pemikiran itu datang. Bila hal itu ada kaitan dengan lingkungan, maka ulama yang kemudian perlu terus berijtihad. Tentunya dengan alasan-alasan yang kuat.

Apa kendalanya juga karena wanita tidak ada yang menjadi ahli fikih, hadis, atau tafsir, sehingga kepentingan kaum wanita terabaikan?

Mungkin dulu kesempatan belajar dari kaum wanita sangat terbatas, maka sudah pasti ahli-ahli fikih yang muncul adalah kaum pria. Puluhan tahun lalu, tidak ada hakim agama dari kalangan wanita. Baru beberapa tahun belakangan ini saja kita punya hakim-hakim agama wanita. Mungkin karena ada pendapat bahwa wanita tidak mampu menjadi hakim. Padahal kenyataannya sekarang ini, dengan adanya hakim wanita tidak ada masalah, semuanya berjalan baik.

Kalau begitu, berarti saat ini kita sangat membutuhkan tokoh-tokoh wanita yang menjadi ahli fikih, hadis atau tafsir?

Betul, kita sangat perlu akan tokoh-tokoh semacam itu. Sudah saatnya kita memberi kesempatan kaum wanita untuk menggeluti bidang-bidang seperti itu. Sekolah untuk itu sekarang ini sudah demikian banyak. Kalau kita berpegang teguh pada Alquran, maka wanita punya hak untuk menjadi ulama atau pemimpin. Tapi, belum banyak wanita yang muncul karena faktor budaya.

Jadi belum banyaknya muncul tokoh wanita karena faktor budaya?

Memang budayanya. Garis agama itu jelas. Budaya yang mempengaruhi keterbelakangan wanita. Situasi dan kondisi suatu daerah sangat mungkin menyebabkan tidak menghargai wanitanya. Ada budaya yang menganggap bahwa wanita tidak mampu untuk tampil ke depan, bahkan sampai kuatir bila wanitanya maju. Lalu agama menjadi justifikasi dalam hal ini, sehingga kaum wanitanya dilarang untuk tampil.

Berbicara tentang kedudukan kaum wanita ini, bagaimana dengan peran Ormas wanita Islam selama ini?

Kelihatannya mereka terlalu sibuk sehingga kurang waktu untuk menghadiri berbagai aktivitas organisasinya. Memang banyak program dan seksi yang menanganinya, tapi apakah berjalan dengan baik atau tidak, itu sulit mengetahuinya. Sebab mengumpulkan orang di kota besar macam Jakarta ini sulit sekali.

Tapi dalam pandangan Anda, apa kelemahan dari Ormas wanita Islam?

Kegiatan mereka sebenarnya cukup banyak. Dengan kemampuan mereka masing-masing, itu sudah cukup baik dan bagus. Kalau mereka bermusyawarah atau rapat sepertinya hasilnya bagus-bagus. Tapi, dalam menjalankan program kerja, mereka sepertinya punya kendala, di antaranya adalah mereka yang memiliki banyak gagasan, sangat sibuk. Sementara mereka yang punya waktu, ternyata tidak banyak yang bisa dipikirkan.

Apa karena tugasnya sebagai isteri atau ibu rumah tangga menjadi kendala juga?

Itu jelas. Mereka punya kegiatan yang harus diurus di rumah dalam posisinya sebagai isteri atau ibu dari putra-putrinya. Selain sibuk di rumah, banyak wanita yang sibuk bekerja di luar rumah. Jadi banyak wanita yang sibuk di rumah, di kantor dan juga di organisasi. Apalagi sekarang ini tidak semua orang mampu memelihara pembantu. Jadi, memang banyak kendala.

Lalu menurut Anda bagaimana cara mengoptimalkan peran Ormas wanita tersebut?

Apa yang selama ini mereka lakukan telah membawa hasil. Paling tidak memberikan sumbangan kepada peningkatan kesadaran wanita. Untuk lebih meningkatkan peran seperti itu memang perlu banyak tenaga, terutama tenaga-tenaga pemikir yang punya waktu. Dari mereka akan banyak lahir konsep dan aktivitas dengan lebih baik lagi. Tentunya harus ditunjang dengan mekanisme organisasi yang sehat. Kalau soal semangat, sebenarnya wanita Indonesia termasuk maju dibandingkan dengan wanita negara-negara lain.

Kalau kaum wanita Indonesia secara keseluruhan bagaimana kondisinya?

Masih banyak yang harus ditingkatkan, baik pengetahuannya maupun keterampilannya. Kemampuan dalam berbagai bidang juga harus ditingkatkan. Pada tingkat pimpinan hal itu sudah memadai, namun pada tingkat bawah masih banyak yang harus ditingkatkan. Tapi, kita sudah bersyukur karena kaum pria mau menerima kemajuan kaum wanitanya. Di banyak negara, hal ini masih belum bisa diterima.

Tentunya dengan kedudukan Anda sebagai Ketua MUI, hal seperti itu juga menjadi perhatian?

Doakan saja. Mudah-mudahan bisa ada manfaatnya meski kesibukan saya tidak berkurang malah bertambah.

Sekarang soal aktivitas Anda. Pilihan Anda menjadi ahli jiwa itu kenapa?

Sebenarnya dari dulu saya senang mengamati orang. Orang bicara saya dengar. Orang mengeluh saya perhatikan. Lalu pada waktu saya masuk perguruan tinggi, saya memilih jurusan pendidikan. Di situ ada pendidikan ilmu jiwa. Ketika saya ke Kairo, minat saya pada ilmu jiwa lebih berkembang lagi karena sepertinya dosen-dosen saya mendorong untuk menekuni bidang itu.

Selama menangani soal-soal kejiwaan ini, keluhan terbanyak biasanya berkisar soal apa saja?

Yang terbanyak adalah problem keluarga, problem anak-anak yang beranjak remaja, dan masalah kepribadian yang tidak hanya berkait dengan masalah keluarga, misalnya merasa dirinya tidak sukses, memandang dunia ini kelabu terus, dan penderitaan-penderitaan pribadi lainnya. Memang cukup bervariasi. Tapi, pernah suatu ketika saya buka catatan pasien yang datang ke klinik dalam satu tahun. Ternyata persoalan kaum remaja itu mencapai 45 % dari kasus yang masuk. Sementara yang lainnya hampir seimbang.

Kenapa justru kaum remaja?

Karena mereka kurang baik hubungannya dengan keluarganya sehingga muncul problem-problem di sekitar mereka. Cukup banyak kaum remaja ini mengeluhkan kondisi keluarganya, misalnya tentang ibunya yang sibuk, ayahnya yang jarang di rumah, dan sebagainya. Kalau sudah begitu, tidak hanya masalah pribadi yang disampaikan, masalah pendidikan pun banyak yang dikeluhkan. Bahkan seorang gadis remaja pernah datang ke klinik saya mengeluh karena sampai sekarang belum memperoleh pacar.

Para remaja selalu mengeluhkan kalau orangtua sulit diajak bicara, sementara orangtua selalu bilang anaknya bungkem tidak mau bicara. Kalau sudah begini yang salah siapa? Menurut saya, tidak ada yang salah. Situasi yang menjadikan mereka menjadi demikian.

Bagaimana cara Anda memberi solusi?

Sebenarnya saya tidak memberikan nasehat secara khusus. Saya mengembangkan kepribadian seseorang untuk dapat mengenali permasalahan yang dihadapi itu apa. Lalu bersama-sama dia, saya menelusuri asal-usul masalah. Dengan sendirinya, mereka akan menemukan jawabannya. Benarkah keinginan dirinya? Benarkah pula persangkaannya tentang penyebab masalah? Saya menggunakan teori non-directive, perawatan kejiwaan yang tidak diarahkan. Pasien dibantu dengan pengembangan dirinya untuk mengetahui persoalan yang dihadapi. Jalan keluar yang kemudian dipakai adalah perombakan kepribadian. Dalam hal inilah agama saya sisipkan ke dalamnya. Kalau sulit bicara pada orang lain, bicaralah kepada Allah lewat tahajud. Mengadulah, menangislah, berteriaklah kalau mau berteriak. Allah pasti dengar.

Pernah gagal dalam memberikan konsultasi?

Saya tidak tahu persis, karena memang ada yang cuma sekali datang ke rumah. Menurut pengalaman, pada umumnya mereka semua menuju sukses. Selama ini setiap mereka yang datang ke rumah selalu memperoleh informasi dari pasien terdahulu. Itu kan berarti mereka berhasil.

Sumber : Harian Republika, edisi Jumat, 11 Agustus 1995
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES