Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Warga Diimbau Waspadai Mutasi Flu Burung Terbaru

Selasa 11 Dec 2012 17:35 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Dewi Mardiani

Seorang petugas Dinas peternakan melakukan penyomprotan di kandang ayam warga untuk mencegah virus flu burung (H5N1).

Seorang petugas Dinas peternakan melakukan penyomprotan di kandang ayam warga untuk mencegah virus flu burung (H5N1).

Foto: Antara/Fiqman Sunandar

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Pimpinan tim dokter penanganan virus flu burung dari Rumah Sakit (RS) Dr Soetomo Surabaya menghimbau warga di wilayah Jawa Timur (Jatim) untuk mewaspadai virus mutasi flu burung yang terbaru.

Wakil Ketua tim dokter penanganan flu burung RS Dr. Soetomo Surabaya, dr Laksmi Wulandari mengatakan, mutasi virus flu burung terbaru itu dimungkinkan terjadi. Hal itu, jelas dia, karena kekhasan virus flu burung ketimbang flu-flu lainnya.

"Virus ini mampu bertahan di kotoran unggas hingga 35 hari, di suhu air 0 hingga 30 derajat dan sifat virus pun RNA di mana memang mudah bermutasi," ungkapnya, Selasa (11/12). Sehingga, menurut dia, wajar apabila virus flu burung ini sempat hilang dan kemudian muncul kembali dengan mutasi yang baru.

Bahkan, pada 2011, seorang peneliti flu burung di wilayah Sidoarjo, dr Joko, sempat menemukan beberapa burung gereja tertular flu burung dari kotoran yang diteliti. Ini berarti modus penularan virus yang bermutasi ini memang masih terus terjadi.

Dengan adanya temuan kematian ratusan itik di Jawa Tengah dan Jawa Timur kemarin, memang merupakan siklus alamiah dari virus flu burung tersebut. Temuan adanya burung gereja yang sempat tertular itu menunjukkan bahwa dinamisnya mutasi virus ini.

Tapi untungnya, temuan penularan virus mutasi ini masih antarunggas. "Harapannya temuan yang itik itu juga masih penularan antar unggas," terang Peneliti Penyakit Tropis Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini. Namun demikian, ia juga tidak menampik apabila mutasi virus ini terus terjadi maka tidak menutup kemungkinan terjadi penularan dari unggas ke manusia.

Untuk itu, ia mengimbau kepada warga agar tetap melakukan petunjuk keamanan bila ditemukan unggas yang mati mendadak, terlebih dalam jumlah yang banyak. Diantaranya dengan membakar bangkai unggas tersebut dan memeriksa unggas yang lain, bila terjangkiti segera dimusnahkan dengan cara dibakar.

RS Dr Soetomo Surabaya terakhir merawat pasien suspek flu burung pada 2010 lalu. Namun sejak kemunculan pasien flu burung pada 2006, setidaknya sudah lima pasien yang terindikasi positif terjangkit flu burung. Dari lima pasien tersebut, tiga diantaranya meninggal dunia dan dua di antaranya berhasil disembuhkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA